Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Cari Blog Ini

Memuat...
RSS

Realita Pendidikan Indonesia

Jakarta dan mungkin juga kota besar lainnya adalah sentra harapan. Tempat mimpi (katanya) akan menjadi kenyataan. Deretan gedung menjulang, kemajuan teknologi, ribuan pekerjaan kantoran, dan berbagai ragam wajah modernitas lainnya yang sangat mengangumkan bagi orang-orang di desa. Tak pelak, Jakarta pun penuh sesak. Akan tetapi, bagi saya dan teman-teman, mahasiswa Sosiologi UI angkatan 2010 yang beberapa waktu lalu berkesempatan merasakan hidup 9 hari di Kecamatam Cugenang, Cianjur, Jabar, justru sebaliknya: Kehidupan desa-lah yang mengagumkan.
Jakarta dan mungkin juga kota besar lainnya adalah sentra harapan. Tempat mimpi (katanya) akan menjadi kenyataan. Deretan gedung menjulang, kemajuan teknologi, ribuan pekerjaan kantoran, dan berbagai ragam wajah modernitas lainnya yang sangat mengangumkan bagi orang-orang di desa. Tak pelak, Jakarta pun penuh sesak. Akan tetapi, bagi saya dan teman-teman, mahasiswa Sosiologi UI angkatan 2010 yang beberapa waktu lalu berkesempatan merasakan hidup 9 hari di Kecamatam Cugenang, Cianjur, Jabar, justru sebaliknya: Kehidupan desa-lah yang mengagumkan.
Walau, harus diberi catatan, kami tidak benar-benar meninggalkan kehidupan kota kami, bahkan dalam beberapa hal terkesan kami justru memindahkan kehidupan kota ke desa yang sedang kami tempati. Beberapa dari kami masih memasak mie dengan heater ala anak kosan, menyetel musik dengan pengeras suara, bermain gitar, bahkan nge-games di hp dan laptop. Beberapa pihak di desa pun terkesan ingin melayani kami se-kota mungkin. Mulai dari tempat menginap yang nyaman dan cukup private, makanan yang seperti di restoran (bahkan lebih enak dan variatif dari yang biasa kami santap di sekitar kosan), hingga dukungan perangkat desa yang membuat penelitian kami jadi lebih mudah dan lancar. Bahkan, kami sempat ditawari untuk mengumpulkan respoden di satu tempat kemudian kami wawancara, tetapi tawarin ini ditolak oleh dosen pembimbing kami karena metode semacam itu tidak akan memberi kami pengalaman yang mengesankan.

Dan benar saja, akibat dari tidakdigunakannya metode itu yang membuat kami harus door to door mewawancarai respoden, saya mendapati pengalaman menarik yang akan selalu saya kenang. Tak hanya di hati, tetapi juga di kaki. Betapa tidak, saya berjalan kaki dengan jarak yang biasanya saya lalui dengan angkot atau moda transportasi lain jika di jakarta, dan berkali-kali.

Hari pertama dari sesi berburu respoden, kami memutuskan untuk menghabiskan jatah respoden di RW terjauh dari populasi kami. Kami pun berangkat dengan 1 motor pinjaman dan 2 motor sewaan. Bergantian, karena total kami 12 orang, ditambah 2 dosen pembimbing. Kami pun mulai menyebar di 3 RT yang jauh-jauh itu. Bertanya di mana rumah si ini dan si itu, menanjaki tanah, berjalan membelahi pematang sawah, wawancara dengan sesekali garuk-garuk kepala karena tidak mengerti bahasa sunda, wah... menyenangkan rasanya.

Hingga matahari mulai kembali ke peraduan, maghrib pun segera datang, saya yang telah mewawancarai dua respoden pun segera bergegas ‘kembali ke bawah’ untuk pulang. Saat itu sempat hujan, kemudian agak mereda, lalu gerimis kembali. Daripada menunggu hujan bersama gelap, walau saat itu berdua dengan teman saya yang kebetulan berhenti di RT yang sama, kami pun memutuskan menerabas gerimis itu. Sayangnya, gerimis itu berubah jadi hujan, semakin deras. Dalam situasi hujan deras seperti itu, kami tidak dapat menelpon teman yang membawa motor. Berteduh pun rasanya tanggung karena sudah kepalang basah. Yang bisa kami lakukan, hanyalah berjalan, terus berjalan dan berjalan terus. Lama sekali rasanya. Tubuh saya seperti ingin pingsan waktu itu. Belum lagi, saya pun harus melindungi kertas kuesioner yang ternyata tetap saja basah juga. Alhamdulillah, kami berdua masih selamat sampai rumah. Walau pernah mengikuti lomba gerak jalan 4 km, saya pikir jarak yang saya lalui kali ini lebih jauh dari itu. Jalan itu pun menurun, berbatu, dan yang lebih dramatis: diiringi hujan deras. Sesuatu yang tak akan saya alami di Jakarta.

Di hari kedua, kami pun mulai membagi lagi, secara acak, jatah responden di 4 RW yang tersisa. Awalnya, saya senang karena tidak kebagian responden di RW 4 yang tidak kalah jauhnya dari RW 5. Namun, ternyata di hari itu, saya gagal sama sekali mendapatkan respoden, bahkan setelah mengunjungi rumah kelima target responden saya. Ada yang ternyata bukan bagian dari populasi penelitian kami, ada yang pergi ke luar dari pagi tanpa diketahui orang tuanya, ada yang ikut pesantren kilat hingga jam 5 sore, bahkan ada yang baru pergi beberapa saat sebelum saya datang. Betapa beruntungnya saya hari itu. Naik turun desa yang jalannya berbatu, tanpa hasil, apapun. Saya pun melihat gurat iba dari teman-teman dan dosen pembimbing saat saya tiba di rumah dengan nafas terengah dan kabar buruk: Enggak dapet! Sempat sedikit patah semangat walau kemudian kembali semangat lagi berkat support dan hiburan dari teman-teman yang lain dan tentunya dosen pembimbing.

Keesokan harinya saya pun berhasil mewawancarai tiga respoden. Saat sebagian besar teman saya telah tuntas menyelesaikan jatah tujuh respoden yang diberikan di hari itu, saya baru bisa menyelesaikannya lusa atau keesokan harinya lagi. Bagi saya, ini hanya lancar jaya yang tertunda. Yang menarik, di hari keempat bagi saya untuk berburu responden, di saat teman-teman yang lain sudah sibuk dengan informannya untuk wawancara mendalam, berarti saya telah mengunjungi rumah kedua respoden saya tersebut sebanyak tiga kali. Jika boleh hitung-hitungan, entah sudah berapa kilometer kaki-kaki ini melangkah di “jalan untuk pijat refleksi” itu.

Merindukan Jalan Kaki
Selain pemandangan indah yang manis sekali untuk jadi latar dari foto diri, satu hal yang saya rindukan dari desa adalah jalan kaki seperti saat berburu respoden waktu itu. Karena memang, saya ragu akan berjalan kaki melalui jarak yang sama, bahkan mendekati, apa yang pernah saya lalui sewaktu LPMPS beberapa waktu lalu.

Oke, saya sepakat, bahwa eksistensi moda transportasi memang mempengaruhi persepsi kita atas jarak dan hasrat untuk berjalan kaki. Akan tetapi, beberapa kali kita pun lebay dalam mempersepsikan suatu jarak sebagai jauh sehingga enggan berjalan kaki. Apalagi semenjak ada motor yang murah dan praktis. Kita naik motor, bahkan untuk sekadar pergi ke warung di depan gang yang tadinya, sebelum ada motor biasa kita lalui dengan berjalan kaki. Tanpa sadar, kita sebenarnya telah mengurangi intesitas pemanfaatan fungsi kaki kita. Saya jadi teringat salah satu gambaran manusia masa depan di Doraemon the Movie (*lupa judulnya) dimana organ motorik mereka seperti tangan dan kaki semakin melemah karena jarang digunakan sehingga mereka harus bergerak dengan bantuan robot. Semoga tidak terjadi.

Alasan modernitas pun sebenarnya tidak bisa digunakan karena di negara maju pun jumlah pedestrian (pejalan kaki) cukup banyak. Oleh karena itu, walau kita punya motor, sepertinya menarik tuh kalau coba-coba pergi dengan berjalan kaki. Bagi yang tak bisa dipaksa oleh kondisi seperti ketika di desa, yuk usahakannya sedikit demi sedikit. Terus tambah jarak maksimal yang bisa anda tempuh dengan berjalan kaki. Kita tak selalu diburu waktu kan? Jalan kaki yuk.
Jakarta dan mungkin juga kota besar lainnya adalah sentra harapan. Tempat mimpi (katanya) akan menjadi kenyataan. Deretan gedung menjulang, kemajuan teknologi, ribuan pekerjaan kantoran, dan berbagai ragam wajah modernitas lainnya yang sangat mengangumkan bagi orang-orang di desa. Tak pelak, Jakarta pun penuh sesak. Akan tetapi, bagi saya dan teman-teman, mahasiswa Sosiologi UI angkatan 2010 yang beberapa waktu lalu berkesempatan merasakan hidup 9 hari di Kecamatam Cugenang, Cianjur, Jabar, justru sebaliknya: Kehidupan desa-lah yang mengagumkan.
Walau, harus diberi catatan, kami tidak benar-benar meninggalkan kehidupan kota kami, bahkan dalam beberapa hal terkesan kami justru memindahkan kehidupan kota ke desa yang sedang kami tempati. Beberapa dari kami masih memasak mie dengan heater ala anak kosan, menyetel musik dengan pengeras suara, bermain gitar, bahkan nge-games di hp dan laptop. Beberapa pihak di desa pun terkesan ingin melayani kami se-kota mungkin. Mulai dari tempat menginap yang nyaman dan cukup private, makanan yang seperti di restoran (bahkan lebih enak dan variatif dari yang biasa kami santap di sekitar kosan), hingga dukungan perangkat desa yang membuat penelitian kami jadi lebih mudah dan lancar. Bahkan, kami sempat ditawari untuk mengumpulkan respoden di satu tempat kemudian kami wawancara, tetapi tawarin ini ditolak oleh dosen pembimbing kami karena metode semacam itu tidak akan memberi kami pengalaman yang mengesankan.

Dan benar saja, akibat dari tidakdigunakannya metode itu yang membuat kami harus door to door mewawancarai respoden, saya mendapati pengalaman menarik yang akan selalu saya kenang. Tak hanya di hati, tetapi juga di kaki. Betapa tidak, saya berjalan kaki dengan jarak yang biasanya saya lalui dengan angkot atau moda transportasi lain jika di jakarta, dan berkali-kali.

Hari pertama dari sesi berburu respoden, kami memutuskan untuk menghabiskan jatah respoden di RW terjauh dari populasi kami. Kami pun berangkat dengan 1 motor pinjaman dan 2 motor sewaan. Bergantian, karena total kami 12 orang, ditambah 2 dosen pembimbing. Kami pun mulai menyebar di 3 RT yang jauh-jauh itu. Bertanya di mana rumah si ini dan si itu, menanjaki tanah, berjalan membelahi pematang sawah, wawancara dengan sesekali garuk-garuk kepala karena tidak mengerti bahasa sunda, wah... menyenangkan rasanya.

Hingga matahari mulai kembali ke peraduan, maghrib pun segera datang, saya yang telah mewawancarai dua respoden pun segera bergegas ‘kembali ke bawah’ untuk pulang. Saat itu sempat hujan, kemudian agak mereda, lalu gerimis kembali. Daripada menunggu hujan bersama gelap, walau saat itu berdua dengan teman saya yang kebetulan berhenti di RT yang sama, kami pun memutuskan menerabas gerimis itu. Sayangnya, gerimis itu berubah jadi hujan, semakin deras. Dalam situasi hujan deras seperti itu, kami tidak dapat menelpon teman yang membawa motor. Berteduh pun rasanya tanggung karena sudah kepalang basah. Yang bisa kami lakukan, hanyalah berjalan, terus berjalan dan berjalan terus. Lama sekali rasanya. Tubuh saya seperti ingin pingsan waktu itu. Belum lagi, saya pun harus melindungi kertas kuesioner yang ternyata tetap saja basah juga. Alhamdulillah, kami berdua masih selamat sampai rumah. Walau pernah mengikuti lomba gerak jalan 4 km, saya pikir jarak yang saya lalui kali ini lebih jauh dari itu. Jalan itu pun menurun, berbatu, dan yang lebih dramatis: diiringi hujan deras. Sesuatu yang tak akan saya alami di Jakarta.

Di hari kedua, kami pun mulai membagi lagi, secara acak, jatah responden di 4 RW yang tersisa. Awalnya, saya senang karena tidak kebagian responden di RW 4 yang tidak kalah jauhnya dari RW 5. Namun, ternyata di hari itu, saya gagal sama sekali mendapatkan respoden, bahkan setelah mengunjungi rumah kelima target responden saya. Ada yang ternyata bukan bagian dari populasi penelitian kami, ada yang pergi ke luar dari pagi tanpa diketahui orang tuanya, ada yang ikut pesantren kilat hingga jam 5 sore, bahkan ada yang baru pergi beberapa saat sebelum saya datang. Betapa beruntungnya saya hari itu. Naik turun desa yang jalannya berbatu, tanpa hasil, apapun. Saya pun melihat gurat iba dari teman-teman dan dosen pembimbing saat saya tiba di rumah dengan nafas terengah dan kabar buruk: Enggak dapet! Sempat sedikit patah semangat walau kemudian kembali semangat lagi berkat support dan hiburan dari teman-teman yang lain dan tentunya dosen pembimbing.

Keesokan harinya saya pun berhasil mewawancarai tiga respoden. Saat sebagian besar teman saya telah tuntas menyelesaikan jatah tujuh respoden yang diberikan di hari itu, saya baru bisa menyelesaikannya lusa atau keesokan harinya lagi. Bagi saya, ini hanya lancar jaya yang tertunda. Yang menarik, di hari keempat bagi saya untuk berburu responden, di saat teman-teman yang lain sudah sibuk dengan informannya untuk wawancara mendalam, berarti saya telah mengunjungi rumah kedua respoden saya tersebut sebanyak tiga kali. Jika boleh hitung-hitungan, entah sudah berapa kilometer kaki-kaki ini melangkah di “jalan untuk pijat refleksi” itu.

Merindukan Jalan Kaki
Selain pemandangan indah yang manis sekali untuk jadi latar dari foto diri, satu hal yang saya rindukan dari desa adalah jalan kaki seperti saat berburu respoden waktu itu. Karena memang, saya ragu akan berjalan kaki melalui jarak yang sama, bahkan mendekati, apa yang pernah saya lalui sewaktu LPMPS beberapa waktu lalu.

Oke, saya sepakat, bahwa eksistensi moda transportasi memang mempengaruhi persepsi kita atas jarak dan hasrat untuk berjalan kaki. Akan tetapi, beberapa kali kita pun lebay dalam mempersepsikan suatu jarak sebagai jauh sehingga enggan berjalan kaki. Apalagi semenjak ada motor yang murah dan praktis. Kita naik motor, bahkan untuk sekadar pergi ke warung di depan gang yang tadinya, sebelum ada motor biasa kita lalui dengan berjalan kaki. Tanpa sadar, kita sebenarnya telah mengurangi intesitas pemanfaatan fungsi kaki kita. Saya jadi teringat salah satu gambaran manusia masa depan di Doraemon the Movie (*lupa judulnya) dimana organ motorik mereka seperti tangan dan kaki semakin melemah karena jarang digunakan sehingga mereka harus bergerak dengan bantuan robot. Semoga tidak terjadi.

Alasan modernitas pun sebenarnya tidak bisa digunakan karena di negara maju pun jumlah pedestrian (pejalan kaki) cukup banyak. Oleh karena itu, walau kita punya motor, sepertinya menarik tuh kalau coba-coba pergi dengan berjalan kaki. Bagi yang tak bisa dipaksa oleh kondisi seperti ketika di desa, yuk usahakannya sedikit demi sedikit. Terus tambah jarak maksimal yang bisa anda tempuh dengan berjalan kaki. Kita tak selalu diburu waktu kan? Jalan kaki yuk.
Walau, harus diberi catatan, kami tidak benar-benar meninggalkan kehidupan kota kami, bahkan dalam beberapa hal terkesan kami justru memindahkan kehidupan kota ke desa yang sedang kami tempati. Beberapa dari kami masih memasak mie dengan heater ala anak kosan, menyetel musik dengan pengeras suara, bermain gitar, bahkan nge-games di hp dan laptop. Beberapa pihak di desa pun terkesan ingin melayani kami se-kota mungkin. Mulai dari tempat menginap yang nyaman dan cukup private, makanan yang seperti di restoran (bahkan lebih enak dan variatif dari yang biasa kami santap di sekitar kosan), hingga dukungan perangkat desa yang membuat penelitian kami jadi lebih mudah dan lancar. Bahkan, kami sempat ditawari untuk mengumpulkan respoden di satu tempat kemudian kami wawancara, tetapi tawarin ini ditolak oleh dosen pembimbing kami karena metode semacam itu tidak akan memberi kami pengalaman yang mengesankan.

Dan benar saja, akibat dari tidakdigunakannya metode itu yang membuat kami harus door to door mewawancarai respoden, saya mendapati pengalaman menarik yang akan selalu saya kenang. Tak hanya di hati, tetapi juga di kaki. Betapa tidak, saya berjalan kaki dengan jarak yang biasanya saya lalui dengan angkot atau moda transportasi lain jika di jakarta, dan berkali-kali.

Hari pertama dari sesi berburu respoden, kami memutuskan untuk menghabiskan jatah respoden di RW terjauh dari populasi kami. Kami pun berangkat dengan 1 motor pinjaman dan 2 motor sewaan. Bergantian, karena total kami 12 orang, ditambah 2 dosen pembimbing. Kami pun mulai menyebar di 3 RT yang jauh-jauh itu. Bertanya di mana rumah si ini dan si itu, menanjaki tanah, berjalan membelahi pematang sawah, wawancara dengan sesekali garuk-garuk kepala karena tidak mengerti bahasa sunda, wah... menyenangkan rasanya.

Hingga matahari mulai kembali ke peraduan, maghrib pun segera datang, saya yang telah mewawancarai dua respoden pun segera bergegas ‘kembali ke bawah’ untuk pulang. Saat itu sempat hujan, kemudian agak mereda, lalu gerimis kembali. Daripada menunggu hujan bersama gelap, walau saat itu berdua dengan teman saya yang kebetulan berhenti di RT yang sama, kami pun memutuskan menerabas gerimis itu. Sayangnya, gerimis itu berubah jadi hujan, semakin deras. Dalam situasi hujan deras seperti itu, kami tidak dapat menelpon teman yang membawa motor. Berteduh pun rasanya tanggung karena sudah kepalang basah. Yang bisa kami lakukan, hanyalah berjalan, terus berjalan dan berjalan terus. Lama sekali rasanya. Tubuh saya seperti ingin pingsan waktu itu. Belum lagi, saya pun harus melindungi kertas kuesioner yang ternyata tetap saja basah juga. Alhamdulillah, kami berdua masih selamat sampai rumah. Walau pernah mengikuti lomba gerak jalan 4 km, saya pikir jarak yang saya lalui kali ini lebih jauh dari itu. Jalan itu pun menurun, berbatu, dan yang lebih dramatis: diiringi hujan deras. Sesuatu yang tak akan saya alami di Jakarta.

Di hari kedua, kami pun mulai membagi lagi, secara acak, jatah responden di 4 RW yang tersisa. Awalnya, saya senang karena tidak kebagian responden di RW 4 yang tidak kalah jauhnya dari RW 5. Namun, ternyata di hari itu, saya gagal sama sekali mendapatkan respoden, bahkan setelah mengunjungi rumah kelima target responden saya. Ada yang ternyata bukan bagian dari populasi penelitian kami, ada yang pergi ke luar dari pagi tanpa diketahui orang tuanya, ada yang ikut pesantren kilat hingga jam 5 sore, bahkan ada yang baru pergi beberapa saat sebelum saya datang. Betapa beruntungnya saya hari itu. Naik turun desa yang jalannya berbatu, tanpa hasil, apapun. Saya pun melihat gurat iba dari teman-teman dan dosen pembimbing saat saya tiba di rumah dengan nafas terengah dan kabar buruk: Enggak dapet! Sempat sedikit patah semangat walau kemudian kembali semangat lagi berkat support dan hiburan dari teman-teman yang lain dan tentunya dosen pembimbing.

Keesokan harinya saya pun berhasil mewawancarai tiga respoden. Saat sebagian besar teman saya telah tuntas menyelesaikan jatah tujuh respoden yang diberikan di hari itu, saya baru bisa menyelesaikannya lusa atau keesokan harinya lagi. Bagi saya, ini hanya lancar jaya yang tertunda. Yang menarik, di hari keempat bagi saya untuk berburu responden, di saat teman-teman yang lain sudah sibuk dengan informannya untuk wawancara mendalam, berarti saya telah mengunjungi rumah kedua respoden saya tersebut sebanyak tiga kali. Jika boleh hitung-hitungan, entah sudah berapa kilometer kaki-kaki ini melangkah di “jalan untuk pijat refleksi” itu.

Merindukan Jalan Kaki
Selain pemandangan indah yang manis sekali untuk jadi latar dari foto diri, satu hal yang saya rindukan dari desa adalah jalan kaki seperti saat berburu respoden waktu itu. Karena memang, saya ragu akan berjalan kaki melalui jarak yang sama, bahkan mendekati, apa yang pernah saya lalui sewaktu LPMPS beberapa waktu lalu.

Oke, saya sepakat, bahwa eksistensi moda transportasi memang mempengaruhi persepsi kita atas jarak dan hasrat untuk berjalan kaki. Akan tetapi, beberapa kali kita pun lebay dalam mempersepsikan suatu jarak sebagai jauh sehingga enggan berjalan kaki. Apalagi semenjak ada motor yang murah dan praktis. Kita naik motor, bahkan untuk sekadar pergi ke warung di depan gang yang tadinya, sebelum ada motor biasa kita lalui dengan berjalan kaki. Tanpa sadar, kita sebenarnya telah mengurangi intesitas pemanfaatan fungsi kaki kita. Saya jadi teringat salah satu gambaran manusia masa depan di Doraemon the Movie (*lupa judulnya) dimana organ motorik mereka seperti tangan dan kaki semakin melemah karena jarang digunakan sehingga mereka harus bergerak dengan bantuan robot. Semoga tidak terjadi.

Alasan modernitas pun sebenarnya tidak bisa digunakan karena di negara maju pun jumlah pedestrian (pejalan kaki) cukup banyak. Oleh karena itu, walau kita punya motor, sepertinya menarik tuh kalau coba-coba pergi dengan berjalan kaki. Bagi yang tak bisa dipaksa oleh kondisi seperti ketika di desa, yuk usahakannya sedikit demi sedikit. Terus tambah jarak maksimal yang bisa anda tempuh dengan berjalan kaki. Kita tak selalu diburu waktu kan? Jalan kaki yuk.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar