Diberdayakan oleh Blogger.

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Cari Blog Ini

Memuat...
RSS

Ilmu Filsafat


A.PENGERTIAN FILSAFAT
1.Secara Etimologi
Filsafah merupakan bentuk kata falsafat, yang semula berasal dari bahasa Yunani yaitu “Philosphia” yang terdiri dari 2 kata, yaitu :
philos / philein berarti suka, cinta, mencintai
shophia berarti kebijaksanaan, hikmah, kepandaian ilmu.
Jadi philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada ilmu. filsafat dalam bahasa Belanda yaitu wijsbegeerte berarti keinginan untuk ilmu Lwijs : pandai, berilmu; Begerte : keinginan.
Dalam arti praktis filsafat mengandung arti alam berfikir / alam pikiran, sedangkan berfilsafah ialah berfikir secara mendalam atau radikal atau dengan sungguh – sungguh sampai keakar-akarnya terhadap suatu kebenaran atau dengan kata lain berfilsafat mengandung arti mencari kebenaran atas sesuatu.

2.Menurut Para Sarjana dan Para Filsuf
a.Para filsuf Yunani / Romawi
Plato (427 – 348 SM)
Filsafat ialah ilmu pengetahuan yang bersifat untuk mencapai kebenaran yang asli.
Aristoteles (382 – 322 SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, seperti ilmu Metafisika, Logika, Retorika, Etika Ekonomi, Politik & Sastetika.



Cicero (106 – 043 SM)
Filsafat adalah ibu dari semua pengetahuan lainnya.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan leluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.
b.Para filsuf abad pertengahan
Descartes (1596 – 1650)
Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.
Immanuel Kant (1724 – 1804)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal segala pengetahuan.
c.Para pakar Indonesia
Darji Darmodihardjo
Filsafat adalah pemikiran dalam usahanya mencari kebijaksanaan dan kebenaran yang sedalam-dalamnya sampai keakar-akarnya (radikal, radik-akar), eratur (sistematis) dan menyeluruh (universal)
IR. Putjowijatno
Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan atas pikiran belaka.
Kesimpulan :
1.Filsafat adalah queen of knowledge (ibu/induk dari segala ilmu pengetahuan).
2.Ilmu pengetahuan :
Ilmu : bagian dari pengetahuan
: pengetahuan yang mempunyai objek, metode & sistematika tertentu.
Pengetahuan : segala sesuatu kebenaran yang diterima oleh manusia baik yang telah teruji menjadi ilmu maupun yang belum teruji.
Jadi ilmu pengetahuan mempelajari gejala alam sebagaimana adanya ilmu pengetahuan bersifat netral / independen, yakni tidak mengharuskan atau melarang sesuatu
  1. berfikir radikal. Artinya berfikir sampai keakar-akarnya. Radikal berasal dari kata Yunani “radix” yang berarti akar.Dengan demikian berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar akarnya dan Berfikir sampai ke hakekat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan.
  2. berfikir sistematis. Sistematis adalah berfikir dalam suatu keterkaitan antar unsur-unsur dalam suatu keseluruhan sehingga tersusun suatu pola pemikiran Filsufis. Sistematis juga bisa diartikan adanya hubungan fungsional antara unsur-unsur untuk mencapai tujuan tertentu.
  3. berfikir kritis. Berpikir yang ditampilkan dalam berpikir kritis sangat tertib dan sistematis. Ketertiban berpikir dalam berpikir kritis diungkapkan MCC General Education Iniatives.
  4. berfikir bebas. Berfikir secara bebas.Bebas dari prasangka-prasangka sosial, historis, kultural ataupun religius.Berfikir dengan bebas itu bukan berarti sembarangan, sesuka hati, atauanarkhi.sebaliknya bahwa berfikir bebas adalah berfikir secara terikat Akan tetapi ikatan itu berasal dari dalam, dari kaidah-kaidah, dari disiplin fikiran itu sendiri Dengan demikian pikiran dari luar sangat bebas, namun dari dalam sangatlah terikat.
  5. berfikir universal.erfikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal (umum) dalam artian Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal serta proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan sesuatu yang parsial.

Friday, July 20, 2007

FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN

FILSAFAT DAN ILMU PENGETAHUAN

A. Pengertian Filsafat
Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia yang terdiri dari dua suku kata yakni philos yang berarti cinta, atau philia yang berarti persahabatan, dan kata sophos yang berarti inteligensi, kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan.
Imam Bernadib menganggap bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philosophos. Kata ini terambil dari kata philos dan sophia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan sophia atau sophos berarti kebijaksanaan, pengetahuan dan hikmah. Seseorang dapat disebut telah berfilsafat menurut Bernadib, apabila seluruh ucapan dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, cinta terhadap pengetahuan dan cinta terhadap hikmah.
Menurut Harun Nasution, falsafat berasal dari bahasa Yunani yang tersusun dari dua kata, yakni philein dalam arti cinta dan sophos dalam arti hikmat (wisdom). Harun mengatakan bahwa orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa mereka dan menyesuaikannya dengan tabiat susunan kata-kata Arab, yaitu falsafa dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Berdasarkan pola kalimat (kata) tersebut, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya falsafah atau filsaf.
Lebih lanjut Harun mengatakan bahwa kata filsafat yang banyak digunakan dalam bahasa Indonesia, sebetulnya bukan murni berasal dari bahasa Arab falsafah dan juga bukan murni dari bahasa Barat philosophy. Akan tetapi, kata filsafat ini merupakan gabungan dari keduanya (bahasa Arab dan Barat). Kata fil diambil dari bahasa Barat dan safah dari bahasa Arab. Berfilsafat menurut Harun adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar-dasar persoalan. Bedasarkan pengertian itulah, maka Harun mendefinisikan filsafat sebagai :
• Pengetahuan tentang hikmah;
• Pengetahuan tentang prinsip atau dasar-dasar;
• Mencari kebenaran; dan
• Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahas.
M. Rasjidi dan Harifuddin Cawidu menyatakan bahwa falsafah (dalam bahasa Arab) berasal dari bahasa Yunani yakni dari kata philosophia, yang terambil dari akar kata philo atau philein yang berarti cinta (loving) dan shopia yang berarti pengetahuan, kebijaksanaan (hikmah atau wisdom). Jadi philosophia artinya cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan atau pengetahuan atau kebenaran menurut Rasjidi disebut philosophos, dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dengan demikian, philosophos atau failasuf adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usa dan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, philosophos atau failasuf adalah orang yang mengabdikan dirinya kepada pengetahuan dan kebenaran.
Rasjidi lebih lanjut menyatakan bahwa meskipun falsafah berasal dari bahasa Yunani sebagai daerah sumber awal kegiatan berfalsafah, tetapi dalam bahasa Arab asli terdapat suatu kata yang mirip dengan makna filsafat, yaitu kata hikmat. Menurut Rasjidi, makna asal dari kata hikmat adalah tali kendali yang digunakan pada seekor kuda untuk mengekang keliarannya. Juga berarti pengetahuan atau kebijaksanaan. Atas dasar itu, maka diambillah kata hikmat sebagai sinonim dari kata filsafat. Karena seseorang yang memiliki hikmat (pengetahuan) itu, seharusnya dapat lebih bijaksana dan dapat membentengi dirinya dari perbuatan rendah dan hina.
Ali Mudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata falsafah (bahasa Arab), philosophy (bahasa Inggris), philosophie (bahasa Jerman, Belanda dan Francis). Menurut Ali Mudhafir, semua kata itu berasal dari bahasa Yunani philosophia. Sedangkan kata philosophia itu sendiri terdiri dari dua suku kata, yakni philein, philos dan sophia. Philein berarti mencintai, philos berarti teman, sophos berarti bijaksana dan sophia berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, kata filsafat secara etimologi menurut Mudhafir memiliki dua pengertian yang berbeda. Pertama, istilah filsafat dilihat dari asal kata philein dan sophos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (filsafat sebagai kata sifat). Kedua, istilah filsafat dilihat dari asal kata philos dan sophia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat sebagai kata benda).
Sejarah telah mencatat bahwa istilah philosophia digunakan pertama kali oleh Pythagoras pada tahun 572 – 497 SM (sekitar abad ke-6 SM). Istilah philosophia ini muncul berawal ketika Pythagoras ditanya tentang apakah ia termasuk orang yang bijaksana. Pythagoras dengan rendah hati menjawab pertanyaan tersebut bahwa dirinya adalah pencinta kebijaksanaan (lover of wisdom). Tetapi istilah philosophia dan philosophos (falsafah dan failasuf) itu sendiri baru menjadi popular dan lazim digunakan pada masa Sócrates dan Plato (sekitar abad ke-5 SM).
Plato (427-384 SM) mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli. Aristóteles (382-322 SM) mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang meliputi kebenaran yang objek kajiannya adalah ilmu metafísica, logika, retórika, etika, ekonomi dan estétika. Selain itu, Al-Farabi (870-950 M) seorang filosof Islam mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bagaimana hakekat alam yang sebenarnya. Sedangkan Descartes (1590-1650 M) mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan ilmu pengetahuan yang meliputi pengetahuan tentang Tuhan, alam dan manusia. Sejalan dengan Descartes, Imanuel Kant (1724-1804 M) mengasumsikan bahwa filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan. Berdasarkan asumsi itulah, maka menurut Kant persoalan yang menjadi pokok kajian filsafat, yaitu;
1. Apakah yang dapat manusia ketahui (dijawab oleh metafisika);
2. Apa yang seharusnya diketahui / dikerjakan manusia (dijawab oleh etika);
3. Sampai dimanakah harapan manusia (dijawab oleh agama); dan
4. Apakah yang dinamakan manusia (dijawab oleh Anthropologi).
Dari pengertian dan definisi filsafat yang dikemukakan oleh para ahli dan filosof sebagaimana tersebut di atas, dapat dipahami bahwa:
1. Filasafat adalah usaha spekulatif yang rasional, sistematik dan konseptual untuk memperoleh pengetahuan atau pandangan yang selengkap mungkin mengenai realitas (kebenaran). Tujuannya adalah untuk mengungkapkan atau menggambarkan dengan kata-kata, hakekat realitas akhir yang mendasar dan nyata.
2. Filsafat adalah ikhtiar untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan secara koheren dan menyeluruh (holistic dan comprehensive), sebagaimana yang tampak dari kegiatan filosofis yang mencari sumber, hakikat, keabsahan dan nilai-nilai pengetahuan apapun.
3. Filsafat adalah wacana tempat berlangsungnya penelusuran kritis terhadap berbagai pernyataan dan asumsi yang umumnya merupakan dasar suatu pengetahuan.
4. Filsafat dapat dipandang sebagai tubuh pengetahuan yang memperlihatkan lepada kita apa yang kita katakan, dan mengatakan kepada kita apa yang kita lihat.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka dapat dipahami bahwa ruang lingkup pembahasan filsafat adalah, pertama, kajian yang berkenaan dengan pencarian kebenaran fundamental dengan cara : (a) argumentatif, yakni pemaparan pendapat yang rasional dengan disertai dasar-dasar penalarannya; (b) non-empirik, yakni tidak berdasarkan pemahaman inderawi. Kedua, penalaran filosofis yang umumnya sibuk menanyakan serta menelusuri makna dan penyebab dasar dari berbagai pengetahuan tanpa mengenal batas apapun, baik batas alamiah, apalagi batas buatan manusia, seperti batas ruang, waktu, agama atau kepercayaan, adat istiadat, etnik, ilmu, dan hal-hal lainnya. Penalaran filosofis yang dimaksud adalah penalaran yang selalu mengandung ciri-ciri skeptis (meragukan), menyeluruh (holistic, comprehensive), mendasar (radikal), kritis, dan analitis.
Filsafat adalah upaya manusia untuk menemukan kebenaran hakiki melalui cara berpikir yang sistematis, komprehensif (menyeluruh, meluas), dan radikal (sampai ke akar-akarnya). Melalui berfikir filsafati, diharapkan manusia menjadi lebih mampu bersikap.

B. Cabang Filsafat
Dilihat dari kriteria dan sifat berfikir filsafat, maka filsafat dapat dibedakan dalam dua jenis pengertian. Pertama, filsafat sebagai reflective thinking, artinya filsafat sebagai aktivitas pikir murni. Dengan kata lain, kegiatan akal piker manusia dalam usahamengerti secara mendalam atas segala sesuatu. Dalam hal ini filsafat merupakan suatu daya atau kemampuan berpikir yang tinggi dari manusia dalam usaha memahami kesemestaan. Kedua, filsafat sebagai produk kegiatan berpikir murni dan terbentuk dalam suatu disiplin ilmu. Maksudnya, ia telah terbentuk dalam perbendaharaan yang terorganisasi dan telah memiliki sistimatika tertentu.
Seiring dengan perkembangan dan dinamika masyarakat, filsafat kemudian berkembang dan melahirkan tiga cabang besar dan sekaligus sebagai objek kajiannya. Ketiga cabang pemikiran filsafat itu adalah ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dari ketiga cabang filsafat ini kemudian berkembang lagi dan masing-masing melahirkan cabang tersendiri. Berikut penjelasan ketiga cabang filsafat tersebut dan perkembangannya.

1). Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakekat yang ada. Menyoal tentang wujud hakiki obyek ilmu dan keilmuan (setiap bidang ilmu dalam jurusan dan program studi) itu apa ? Objek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindera. jadi objek ilmu adalah pengalaman inderawi. Dengan kata lain, ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakekat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata.
Ontologi sebagai cabang filsafat yang membicarakan tentang hakekat benda bertugas untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “apa sebenarnya realitas benda itu ? apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak ?”. Dari teori hakekat (ontologi) ini kemudian muncullah bebrapa aliran dalam filsafat, antara lain :
1. Filsafat Materialisme *
2. Filsafat Idealisme
3. Filsafat Dualisme
4. Filsafat Skeptisisme
5. Filsafat Agnostisisme.
Jujun S. Suriasumantri menyatakan bahwa pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup tiga segi, yakni (a) logika (Benar-Salah), (b) etika (Baik-Buruk), dan (c) estetika (Indah-Jelek). Ketiga cabang utama filsafat ini lanjut Suriasumantri, kemudian bertambah lagi yakni, pertama, teori tentang ada: tentang hakekat keberadaan zat, hakekat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika; kedua, kajian mengenai organisasi sosial / pemerintahan yang ideal, terangkum dalam politik. Kelima cabang filsafat ini – logika, etika, estetika, metafisika dan politik – menurut Suriasumantri, kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian lebih spesifik lagi yang disebut filsafat ilmu.
Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. Menurut Plato, tiap-tiap yang ada di alam nyata ini mesti ada ideanya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari tiap sesuatu. Plato mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau konsep universal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik itu kuda yang berwarna hitam, putih ataupun belang, baik yang hidup ataupun udah mati. Idea kuda itu adalah faham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda yang berada di benua manapun di dunia ini.
Demikian pula manusia punya idea. Idea manusia menurut Plato adalah badan hidup yang kita kenal dan bisa berpikir. Dengan kata lain, idea manusia adalah ”binatang berpikir” ( _Êämlãq~1 – Arab). Konsep binatang berfikir atau _Êämlãq~1 ini bersifat universal, berlaku untuk seluruh manusia besar-kecil, tua-muda, lelaki-perempuan, manusia Eropa, Asia, India, China, dan sebagainya. Tiap-tiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Idea inilah yang merupakan hakekat sesuatu dan menjadi dasar wujud sesuatu itu. Idea-idea itu berada dibalik yang nyata dan idea itulah yang abadi. Benda-benda yang kita lihat atau yang dapat ditangkap dengan panca indera senantiasa berubah. karena itu, ia bukanlah hakekat, tetapi hanya bayangan, kopi atau gambaran dari idea-ideanya. Dengan kata lain, benda-benda yang dapat ditangkap dengan panca indera ini hanyalah khayal dan illusi belaka.
Argumen ontologis kedua dimajukan oleh St. Augustine (354 – 430 M). Menurut Augustine, manusia mengetahui dari pengalaman hidupnya bahwa dalam alam ini ada kebenaran. Namun, akal manusia terkadang merasa bahwa ia mengetahui apa yang benar, tetapi terkadang pula merasa ragu-ragu bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu kebenaran. Menurutnya, akal manusia mengetahui bahwa di atasnya masih ada suatu kebenaran tetap (kebenaran yang tidak berubah-ubah), dan itulah yang menjadi sumber dan cahaya bagi akal dalam usahanya mengetahui apa yang benar. Kebenaran tetap dan kekal itulah kebenaran yang mutlak. Kebenaran mutlak inilah oleh Augustine disebut Tuhan.

2). Epistemologi
Epistemologi berasal dari kata episteme yang berati pengetahuan dan logos yang berarti ilmu. Jadi epistemologi adalah ilmu yang membahas tentang pengetahuan dan cara memperolehnya. Epistemologi disebut juga teori pengetahuan, yakni cabang filsafat yang membicarakan tentang cara memperoleh pengetahuan, hakekat pengetahuan dan sumber pengetahuan. . Dengan kata lain, epistemologi adalah suatu cabang filsafat yang menyoroti atau membahas tentang tata-cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan.
Tata cara, teknik, atau prosedur mendapatkan ilmu dan keilmuan adalah dengan metode non-ilmiah, metode ilmiah dan metode problem solving. Pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan/metode non-ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh dengan cara penemuan secara kebetulan; untung-untungan (trial and error); akal sehat (common sense); prasangka; otoritas (kewibawaan); dan pengalaman biasa. Metode ilmiah adalah cara memperoleh pengeahuan melalui pendekatan deduktif dan induktif. Sedangkan metode problem solving adalah memecahkan masalah dengan cara mengidentifikasi permasalahan; merumuskan hipotesis; mengumpulkan data; mengorganisasikan dan menganalisa data; menyimpulkan dan conlusion; melakukan verifikasi, yakni pengujian hipotesis. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan teori-teori, prinsip-prinsip, generalisasi dan hukum-hukum. Temuan itu dapat dipakai sebagai basis, bingkai atau kerangka pemikiran untuk menerangkan, mendeskripsikan, mengontrol, mengantisipasi atau meramalkan sesuatu kejadian secara lebih tepat.

3). Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang orientasi atau nilai suatu kehidupan. Aksiologi disebut juga teori nilai, karena ia dapat menjadi sarana orientasi manusia dalam usaha menjawab suatu pertanyaan yang amat fundamental, yakni bagaimana manusia harus hidup dan bertindak ? Teori nilai atau aksilogi ini kemudian melahirkan etika dan estetika. Dengan kata lain, aksiologi adalah ilmu yang menyoroti masalah nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan itu. Secara moral dapat dilihat apakah nilai dan kegunaan ilmu itu berguna untuk peningkatan kualitas kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia atau tidak. Nilai (values) bertalian dengan apa yang memuaskan keinginan atau kebutuhan seseorang, kualitas dan harga sesuatu, atau appreaciative responses.
Ilmu penegetahuan itu hanya alat (means) dan bukan tujuan (ends). Substansi ilmu itu bebas nilai (value-free), tergantung pada pemakaianya. Karena itu, sangat dihawatirkan dan berbahaya jika ilmu dan pengetahuan yang sarat muatan negatif itu dikendalikan atau jatuhnya ke orang-orang yang berakal picik, sempit, dan sektarian; berjiwa kerdil, kumuh dan jahat, bertangan besi dan kotor. Sekarang coba kita lihat, dimana-mana terjadi krisis-krisis: ketidak-berdayaan, kemerosotan, kebodohan, keresahan, kemiskinan, kesakitan, keterbelakangan, ketidak-percayaan, dan lainnya sebagai dampak mismanagement, misdirection, mismanipulation, dan lain sebagainya.
C. Pengertian Ilmu dan Pengetahuan
Kata ilmu dan pengetahuan adalah dua buah kata yang merupakan kata majemuk, sehingga dalam penggunaannya sehari-hari selalu dirangkai dan membentuk satu arti, yakni ilmu pengetahuan. Namun, apabila dilihat dalam perspektif keilmuan, ternyata kata ilmu dan pengetahuan mempunyai arti tersendiri.
Pengetahuan mempunyai makna yang sama dengan knowledge dalam bahasa Inggris. Dalam hal ini, antara pengetahuan dengan ilmu (science – Inggris) memiliki perbedaan makna utamanya pada penggunaannya. Menurut al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Cecep Sumarna bahwa, pengetahuan adalah hasil aktivitas mengetahui, yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan di dalamnya.
Pengetahuan merujuk kepada apa yang kita kenal, ketahui atau fahami atau dapatkan melaui pengalaman, penginderaan, penyuluhan, pelatihan, percobaan, belajar, refleksi, intuisi, dan lainnya. Dengan kata lain, pengatahuan adalah apa yang kita ketahui.
Pengetahuan berlangsung dalam dua bentuk dasar yang berbeda. Pertama, pengetahuan yang berfungsi untuk dinikmati dan memberikan rasa puas dalam hati manusia. Kedua, pengetahuan yang patut digunakan atau diterapkan dalam menjawab kebutuhan praktis. Dari dua bentuk dasar pengetahuan tersebut, kemudian melahirkan tiga macam pengetahuan, yakni pengetahuan tentang sains, filsafat dan mistik. Pengetahuan selalu memberi rasa puas dengan menangkap tanpa ragu terhadap sesuatu. Pengertian pengetahuan seperti itulah yang telah membedakannya dengan ilmu yang selalu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari apa yang sekedar dituntut oleh pengetahuan.
Muhammad Hatta memberikan pengertian yang berbeda antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan. Menuurut Hatta sebagaimana dikutip oleh M. Rasjidi dan Harifuddin Cawidu bahwa: ”pengetahuan yang didapat dari pengalaman disebut pengetahuan”, sedangkan ”yang didapat dengan jalan keterangan disebut ilmu”.
Ilmu (science – Yunani; ’Alima – Arab) secara etimologi berarti tahu atau pengetahuan. Tetapi secara terminologi ilmu atau science adalah pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri dan syarat-syarat tertentu. Para ahli telah memberikan rumusan batasan ilmu pengetahuan (science) dengan formulasi yang berbeda-beda, antara lain :

1. Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag memberikan batasan defenisi ilmu. Menurutnya, ”ilmu adalah yang empiris, yang rasional, yang umum dan kumulatif (bertimbun-timbun) dan keempat-empatnya serentak.”
2. Ashley Montagu: ”Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan pengalaman untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari.”
3. Dalam Ensiklopedi Indonesia sebagaimana dikutip Rasjidi dirumuskan bahwa: ”Ilmu Pengetahuan adalah suatu sistem dari pelbagai pengetahuan, yang masing-masing mengenai suatu lapangan pengalaman tertentu, yang disusun sedemikian rupa menurut asas-asas tertentu, hingga menjadi kesatuan; suatu sistem dari pelbagai pengetahuan yang masing-masing didapatkan sebagai hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan memakai metode-metode tertentu (induksi, deduksi).”
4. Sutari Imam Barnadib: ”Ilmu pengetahuan adalah suatu uraian yang lengkap dan tersusun tentang suatu obyek.”
5. Amir Daien Indrakusuma: ”Ilmu pengetahuan adalah uraian yang sistematis dan metodis tentang suatu hal atau masalah.”

Ilmu adalah cabang pengetahuan dengan ciri-ciri tertentu. Ciri-cirinya adalah memiliki obyek, memiliki metode, memiliki sistematika, dapat diuji kebenarannya. Menurut Quraish Shihab, kata ilmu digunakan dalam arti proses pencapaian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dari segi bahasa, kata ilmu berasal dari bahasa Arab, ’ilm yang berarti kejelasan. Jadi ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu.
Quraish Shihab lebih lanjut mengatakan bahwa ilmu itu ada dua macam berdasarkan perspektif al-Quran. Pertama, ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, yang disebut ilmu ladunni. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, yang disebut ilmu kisbi. Sedangkan berdasarkan fungsinya, ilmu-ilmu itu dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok yaitu:
a. Ilmu untuk ibadah dalam arti khusus atau ritual
b. Ilmu untuk mengembangkan pribadi manusia mencapai ahsani taqwim
c. Ilmu untuk hidup berbudaya dengan sesama manusia
d. Ilmu untuk memelihara, mengembangkan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik.

Malik bin Nabi di dalam kitabnya, Intaj al-Mustasyriqin wa at-Saruhu Fi al-Fikriy al-Hadits sebagaimana yang dikutip oleh Quraish Shihab ”Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut”. Dalam hal ini, Malik bin Nabi tidak membedakan antara ilmu dengan pengetahuan.
Lebih lanjut Malik bin Nabi mengatakan:
”Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang- bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat-syarat psikologis dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.
Ini menunjukkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan wujudnya suatu iklim yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.”

Ilmu (science) merupakan pengetahuan yang menelaah dunia empirik, cara perolehannya melalui observasi, penginderaan, pengkajian, atau percobaan yang sistematik, metodis, dan koheren. Objek ilmu pengetahuan adalah dunia empirik atau alam materi yang diserap melalui panca indera yang lugas maupun yang dibantu oleh teknologi modern.
Ilmu adalah dasar untuk peradaban manusia, dan perkembangan ilmu diwadahi oleh perguruan tinggi. Kita mengembangkan ilmu secermat-cermatnya untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dalam kehidupan manusia, dalam rangka pengabdian manusia (sebagai mahluk) kepada penciptanya (khaliq)
Ilmu sangat erat kaitannya dengan kebenaran. Kita percaya bahwa kebenaran mutlak diwahyukan tuhan kepada manusia, sedangkan kebenaran yang dicapai itu sifatnya relatif, dan diantara kebenaran relatif ini dibagi dua, ialah filsafat yang bersifat ‘spekulatif’ dan ilmu atau sains yang bersifat ‘positif’.
Dalam sains (yang tidak melandaskan diri kepada tuhan), sebagai pemula keberadaan sains ditetapkan dalam empat asumsi dasar, yaitu:
1. Bahwa dunia ini ada
2. Kita bisa mengetahui dunia
3. Kita mengetahui dunia melalui panca indera
4. Fenomena-fenomena terkait dengan kausal
Dalam upaya quest for knowledge manusia menggunakan segala akal budinya, ialah rasio dan rasa. Bila ilmu barat hanya menyandarkan pada akal atau rasionya saja, sedangkan ilmu timur menekankan pada kalbu dan hanya sedikit rasio. Akan tetapi kita menghendaki untuk menggunakan rasio dan rasa secara seimbang pada tempat dan takaran yang benar.
Kemampuan rasio terletak pada membedakan (atau menyamakan) dan menggolongkan (berdasarkan kesamaan itu). Selain itu menyatakan secara kuantitatif atau kualitatif, menyatakan hubungan-hubungan dan mendeduksinya (atau menginduksinya). Semua kemampuan itu berdasarkan ketentuan atau patokan-patokan yang sangat terperinci. Rasio tidak berdusta; dalam keadaan murni ia menyatakan secara tegas ya atau tidak.
Kemampuan rasa terletak pada kreativitas, yang merupakan kegaiban, karena itu langsung berhubungan dengan tuhan. Kreativitas inilah yang merupakan pemula di segala bidang, nalar, ilmu, etika dan estetika. Sebagai pemula, kemampuan ini disebut intuisi. Etika (love) dan estetika (beauty) seluruhnya terletak pada rasa, sehingga tiadanya rasa tak mungkin ada etika dan estetika. Rasa tidak berpatokan sebagaimana dipunyai oleh rasio. Patokan ini disebut inferensi. Rasa adalah media kontak manusia dengan tuhan. Rasa yang terjaga menjadikan manusia berderajad lebih tinggi dari malaikat, sedangkan rasa yang tidak terjaga dari godaan syeitan menjadikan manusia jatuh martabat menjadi lebih rendah dari binatang sekalipun.
Daya quest for knowledge (penguasaan ilmu) muslim melemah, ada hubungannya dengan melemahnya penggunaan akal dan nalar, sehubungan dengan pandangan teologis yang terlalu menonjolkan takdir, yang harus diupayakan adalah perenungan dalam melakukan nalar.
Istilah science atau ilmu dalam pengertiannya yang lengkap dan menyeluruh adalah serangkaian kegiatan manusia dengan pikirannya dan menggunakan berbagai tata cara sehingga menghasilkan sekumpulan pengetahuan yang teratur mengenai gejala-gejala alami, kemasyarakatan dan perorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, dan memberikan penjelasan atau melakukan penerapan.
Ilmu pengetahuan itu timbul disebabkan oleh adanya kebutuhan-kebutuhan dan kemauan manusia untuk hidup bahagia dan sejahtera. Sehingga dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, maka manusia menggunakan akal pikirannya. Hasil dari pemikiran manusia itulah, kemudian melahirkan berbagai ilmu pengetahuan seperti: ilmu pertanian, perikanan, humaniora, kesehatan, ilmu hukum, ilmu bahasa, Ilmu Pengetahuan Alam, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya masih banyak rumusan tentang definisi ilmu (science) yang dikemukakan oleh para ahli ilmu pengetahuan yang tidak dapat disebutkan semua. Tetapi kalau dicermati dari semua definisi atau batasan yang bermacam-macam itu dapat diketahui bahwa ilmu (science) merupakan pengetahuan yang bercirikan sistematik, rasional, empiris dan bersifat kumulatif.
Sementara syarat-syarat sesuatu dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan adalah harus mempunyai:
1. obyek formal sendiri;
2. metode penelitian;
3. sistematika uraian; dan
4. tujuan.

Berdasarkan berbagai definisi dan pembagian ilmu sebagaimana yang disebutka di atas, maka secara garis besarnya objek ilmu dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu alam materi dan nonmateri. Sains mutakhir yang mengarahkan pandangannya kepada alam materi, menyebabkan manusia membatasi ilmunya pada bidang tersebut. Bahkan sebagian mereka tidak mengakui adanya realitas yang tidak dapat dibuktikan di alam materi. Karena itu, objek ilmu menurut mereka hanya mencakup sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang secara kualitatif dan penggandaan, variasi terbatas, dan pengalihan antar budaya. Sedangkan ilmuwan muslim menyatakan bahwa objek ilmu mencakup alam materi dan nonmateri. Karena itu, ilmuwan muslim – kususnya kaum sufi – memperkenalkan ilmu untuk menggambarkan hirarki keseluruhan realitas wujud yang mereka sebut lima kehadiran Ilahi, yaitu :
1. Alam materi
2. Alam kejiwaan
3. Alam ruh
4. Sifat-sifat ilahiyah, dan
5. Wujud zat ilahi

Cara memperoleh ilmu-ilmu tersebut ada dua macam sebagaimana yang dikemukakan oleh Quraish Shihab, yakni dengan ladunni dan dengan kasbi. Adapun sarana yang digunakan untuk memperoleh ilmu-ilmu tersebut adalah dengan melalui pendengaran, penglihatan (mata), akal dan hati. Sedangkan trial and error (coba-coba), pengamatan, percobaan dan tes-tes kemungkinan (probability) merupakan cara-cara yang digunakan ilmuwan untuk meraih pengetahuan.

D. Hubungan antara Filsafat dan Ilmu Serta Objek Kajiannya
Dari zaman Plato (348 SM) sampai masa al-Kindi (1209 M), boleh dikatakan tidak ada batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan. Karena seorang filosof pada zaman tersebut pasti menguasai semua ilmu. Tetapi dengan adanya perkembangan daya pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praktis, sehingga ilmu mengalami loncatan perkembangan dibandingkan dengan loncatan filsafat. Walaupun sesungguhnya ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam perkembangannya dan dengan didukung oleh kecanggihan teknologi, maka perkembangan ilmu pengetahuan telah mengalahkan perkembangan filsafat. Bahkan wilayah kajian filsafat seolah menjadi lebih sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya dari pada wilayah kajian ilmu. Oleh karena itulah, muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan dianggapnya kurang relevan lagi dikembangkan. Sebab manusia saat ini lebih membutuhkan ilmu yang sifatnya praktis dari pada filsafat yang terkadang sulit ”dibumikan”. Lalu pertanyaannya sekarang, benarkah demikian ?
Kartini Kartono (1996) seperti yang dikutip oleh Cecep Sumarna mengemukakan bahwa ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Tugas ilmu menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen.
Di lain pihak berpendapat bahwa keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen itu sendiri, dapat didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang cenderung spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praktis. Dengan demikian, menurut Sony Kerap ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat, kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteorisasi. Kebenaran ilmu dibatasi hanya pada sepanjang pengalaman dan sepanjang pemikiran, sedangkan filsafat menghendaki pengetahuan yang komprehensif dan itu tidak dapat diperoleh dalam ilmu, yakni; yang luas, yang umum dan universal (menyeluruh).
Dari pandangan dan anggapan yang dikemukakan di atas, AM. Saefuddin justru menyatakan bahwa filsafat merupakan sesuatu yang dibutuhkan manusia saat ini, sebagaimana butuhnya manusia terhadap ilmu pengetahuan. Menurut AM. Saefuddin, filsafat dapat ditempatkan pada posisi maksimal pemikiran manusia yang pada tarap tertentu tidak mungkin dapat dijangkau oleh ilmu. Menurutnya, menafikan kehadiran filsafat, sama artinya dengan melakukan penolakan terhadap kebutuhan riil dari realitas kehidupan manusia yang memiliki sifat untuk terus maju.
Di samping itu, ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Kalau ilmu bersifat pasteriori; yakni kesimpulannya ditarik setelah malakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang. Bahkan pada hal tertentu ilmu menuntut untuk diadakannya percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Sedangkan filsafat bersifat priori; yakni kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. Sebab filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris, ia bersifat spekulatif dan kontemplatif. Kebenaran filsafat tidak dapat dibuktikan oleh filsafat itu sendiri, tetapi hanya dapat dibuktikan oleh teori-teori keilmuan melalui observasi dan eksperimen atau memperoleh justifikasi kewahyuan. Dengan demikian, tidak setiap filosof dapat disebut sebagai ilmuwan. Sebaliknya, tidak semua ilmuwan dapat disebut filosof. Meskipun cara kerjanya sama, yakni sama-sama menggunakan aktivitas berfikir, tetapi aktivitas berfikir ilmuwan sangat berbeda dengan aktivitas berfikir filosof. Penjelasan lebih lanjut mengenai aktivitas berfikir ilmuwan dan berfikir filosof dapat dilihat pada pembahsan tentang ciri-ciri berfikir filsafat dan ciri-ciri kebenaran ilmiah.
Selain itu, filsafat dan ilmu sama-sama mencari kebenaran. Ilmu bertugas melukiskan, sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan ’bagaimana menjawab pelukisan’, sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan ’bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan ke mana akhirnya’.
Dari gambaran yang dikemukakan di atas memberikan pemahaman bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan, tetapi pada sisi yang lain ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan. Tegasnya, filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan dapat menjadi pembuka dan sekaligus pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. Filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai cabang ilmu. Pada kenyataannya hampir tidak ada satu cabang ilmupun yang terlepas atau tidak terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat untuk mengkaji ilmu pengetahuan yang kemudian dinamakan filsafat ilmu. Dengan demikian terlihat adanya pola relasi antara filsafat dengan ilmu. Walaupun pola relasi (hubungan) ini dapat berbentuk persamaan dan atau perbedaan antara filsafat dan ilmu.

E. Kedudukan dan Fungsi Filsafat Bagi Manusia
Seperti diketahui bahwa filsafat muncul sebagai manifestasi dari kegiatan berpikir manusia yang selalu mempertanyakan, menganalisa, sampai ke akar-akarnya tentang hakikat dari realitas yang ada dihadapannya. Naluri manusia yang selalu ingin tahu dan selalu mempertanyakan segala sesuatu sampai ke radiksnya itulah yang menimbulkan lahirnya filsafat. Hal-hal yang sering menggoda pikiran manusia untuk selalu mempertanyakannya, antara lain: Apakah alam itu sesungguhnya, apakah hanya ada dalam pikiran dan tidak mempunya wujud secara realitas ?, apakah ia tunduk di bawah peraturan hukum mekanika ataukah ia tunduk kepada suatu rencana, tujuan dan sasaran ?; Siapakah manusia itu sesungguhnya ? apakah akal yang dimilikinya yang selalu berpikir adalah sesuatu yang berbeda dari benda, ataukah ia hanya merupakan perpaduan atom-atom seperti halnya benda-benda lain ? Manusia itu hidup; tetapi apakah hidup itu ?, suatu ketika ia akan mati, lalu apakah kematian itu ? kemana ia pergi sesudah mati ? Siapakah yang menciptakan alam, manusia, kehidupan dan kematian itu ? Dan masih banyak sederetan pertanyaan-pertanyaan yang dapat dikemukakan dalam mengungkap keingintahuan manusia. Tetapi kalau disimpulkan, maka semua pertanyaan itu akan berkisar pada tiga persoalan pokok yang selalu dibahas manusia, yaitu persoalan alam, manusia dan persoalan tentang Tuhan. Meskipun ilmu pengetahuan dan agama telah berupaya untuk menjawab persoalan-persoalan itu, namun manusia dengan naluri tanya dan pikirnya tetap mempersoalkan hal-hal itu lebih jauh.
Perbedaan kemampuan, lingkungan serta perbedaan ruang dan waktu, di mana manusia memberikan jawaban-jawabannya terhadap persoalan-persoalan tersebut, menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan jawaban dalam masalah-masalah yang sama. Akhirnya muncullah aliran-aliran dan konsepsi-konsepsi pemikiran tentang hal-hal tersebut di atas. Ada yang saling bersamaan, ada yang bersinggungan dan tidak sedikit yang saling bertentangan. Karena sifat relatif akal manusia itulah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan-perbedaan itu.
Persoala-persoalan yang dihadapi manusia dari zaman ke zaman memperlihatkan gejala perkembangan ke arah yang semakin kompleks. Kalau zaman dahulu persoalan manusia masih sangat sederhana, maka lambat laun persolan-persoalan itu semakin banyak dan semakin beragam, yang tentunya mengundang pemikiran yang beraneka ragam pula. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan dan bukan merupakan sesuatu yang aneh kalau pemikiran-pemikiran yang muncul ke permukaan semakin banyak, seirama dengan perkembangan zaman yang lebih banyak menimbulkan problema.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan yang dibicarakan oleh filsafat dari dulu hingga kini tetap berkisar pada tiga masalah pokok di atas – persoalan alam, manusia dan Tuhan –. Tetapi aspek-aspek filosofis dari ketiga persoalan itu, utamanya tentang alam dan manusia selalu berkembang dan bervariasi dari masa ke masa. Perkembangan itu pulalah yang menimbulkan pemikiran-pemikiran dalam bidang filsafat semakin banyak dan semakin bervariasi.
Di samping itu, filsafat yang semula merupakan induk dari ilmu pengetahuan, kemudian ditinggalkan oleh anak-anaknya, kini kembali merajuk hubungan yang mesra antara keduanya (filsafat dan ilmu pengetahuan). Hubungan itu terlihat pada usaha menggunakan filsafat sebagai pisau analisa terhadap disiplin ilmu yang beragam itu. Dalam hal ini filsafat berkedudukan sebagai mediator untuk mencari hubungan-hubungan yang dapat merangkum disiplin yang berbeda-beda itu. Dengan kata lain, bahwa dalam dunia ilmu pengetahuan, filsafat sekarang ini berfungsi sebagai salah satu sarana dan alat pendekatan interdisiplin yang akan merangkum atau sekurang-kurangnya mencari hubungan antara berbagai disiplin yang bermacam-macam, sehingga menjadi suatu rangkaian yang saling berkaitan. Dewasa ini terlihat dengan jelas filsafat dijadikan sebagai atribut dari satu disiplin ilmu tertentu, misalnya: filsafat ekonomi, filsafat hukum, filsafat sosial, filsafat politik, filsafat administrasi, filsafat sejarah, dan sebagainya.
Dari hal-hal seperti tersebut di atas, maka filsafat merupakan usaha pendalaman lebih lanjut dari ilmu pengetahuan sebagai suatu hasil berpikir yang mendalam. Karen filsafat berusaha mencari jawaban dari berbagai persoalan hidup manusi yang tidak mampu dijawab oleh ilmu pengetahuan, maka filsafat sangat penting kedudukannya bagi manusia. Dengan demikian, filsafat tidak hanya berada di awang-awang seperti yang diduga oleh sebagian orang, tetapi ia memiliki nilai praktis dan manfaatnya dapat dirasakan secara kongkrit oleh manusia pada umumnya. Sebab filsafat itu sesungguhnya membimbing manusia untuk berpikir secara utuh dan bulat, sehingga manusia dapat menjawab problema-problema secara interdisiplin.

F. Ciri-ciri Berpikir Filsafat dan Teori Kebenarannya
Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua aktivitas berpikir dapat disebut berfilsafat. Menurut Cecep Sumarna suatu kerangka berpikir tertentu, baru dapat disebut berfilsafat apabila memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
a. Radikal (radix – Yunani), arti dasarnya adalah akar. Jadi berpikir radikal berarti berpikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, tidak ada sesuatu yang terlarang untuk dipikirkan
b. Sistemik, artinya berpikir logis, step by step, penuh kesadaran, berurutan dan penuh tanggung jawab
c. Universal, artinya berpikir secara menyeluruh, tidak terbatas pada bagian-bagian tertentu, tetapi mencakup keseluruhan aspek, baik yang kongkrit maupun yang abstrak.

Sedangkan menurut Jujun S. Suriasumantri bahwa cirri-ciri berpikir filosofis adalah:
a. Sifat berpikirnya menyeluruh. Seorang filosof tidak puas mengenal ilmu hanya dari perspektif ilmu itu sendiri, tetapi ia ingin melihat hakikat ilmu itu dalam perspektif yang lain. Ia ingin menghubungkan ilmu itu dengan aspek-aspek lainnya. Ia ingin mengetahui kaitan ilmu dengan moral dan kaitan ilmu dengan agama. Ia ingin meyakini apakah ilmu yang diketahuinya itu dapat membawa manfaat atau tidak.
b. Sifat berpikirnya mendasar. Seorang filosof tidak percaya begitu saja kebenaran ilmu yang diperolehnya. Ia selalu ragu dan mempertanyakannya; Mengapa ilmu dapat disebut benar ? Bagaimana proses penilaian berdasarkan kriteria tersebut dilakukan ? Apakah kriteria itu sendiri benar ? Lalu benar itu sendiri apa ? Seperti sebuah lingkaran dan pertanyaan-pertanyaan pun selalu muncul secara berkelindan.
c. Sifat berpikirnya spekulatif. Seorang filosof melakukan spekulasi terhadap kebenaran. Sifat spekulatif itu pula seorang filosof terus melakukan uji coba lalu melahirkan sebuah pengetahuan dan dapat menjawab pertanyaan terhadap kebenaran yang dipercayainya.
Berdasarkan ciri-ciri filsafat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berfilsafat adalah suatu aktivitas yang menggunakan potensi akal seluas-luasnya dan sebebas-bebasnya tanpa dibatasi oleh sesuatu apapun secara radikal, tersistematis, universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran.

G. Ilmu Pengetahuan: Sumber dan Teori Kebenarannya
1. Sumber Pengetahuan
Dalam konteks filsafat Barat Moderen, ada dua sumber pengetahuan yang dianggap melahirkan ilmu pengetahuan bagi manusia, yakni rasio dan pengalaman. Mereka yang mendasarkan kebenaran pada rasio dalam perkembangannya melahirkan paham rasionalisme. Sedangkan mereka yang mendasarkan diri pada pengalaman yang dalam perkembangannya melahirkan paham empirisme. Kedua paham inilah yang menjadi landasan lahirnya ilmu pengetahuan di Barat Moderen. Tetapi jika ditelusuri lebih jauh melalui karya filosof skolastik , Islam memperkenalkan sumber pengetahuan lain (selain rasionalisme dan empirisme) yaitu, intuisi dan wahyu. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sumber pengetahuan adalah rasionalisme, empirisme serta intuisi dan wahyu. Berikut penjelasan mengenai sumber pengetahuan tersebut.
a. Rasionalisme
Menurut penganut rasionalisme bahwa dalam setiap benda terdapat ide-ide terpendam (innate ideas) dan proposisi-proposisi umum (general proposition) yang kemudian disebut sebagai proposisi keniscayaan (necessary atau a priori) yang dapat dibuktikan sebagai kebenaran dalam kesempurnaan atau keberadaan verifikasi empiris.
Paham rasional menganggap bahwa ilmu lahir dari induk produk sebuah rangkaian penalaran. Kelompok rasionalis ini mendasarkan diri pada cara kerja deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis-premis yang digunakan dalam membuat rumusan keilmuan harus jelas dan dapat diterima. Menurutnya, ide-ide bukanlah ciptaan manusia, tetapi itu sudah ada sebelum manusia memikirkannya. Paham ini sering juga disebut idealisme atau realisme.
Sistem kefilsafatan kaum rasionalis menganggap bahwa dengan sesuatu atau cara lain, ada hal-hal yang adanya terdapat di dalam dan tentang dirinya sendiri dan yang hakikatnya tidak terpengaruh oleh seseorang. Paham ini menganggap bahwa eksistensi objek tergantung pada diketahuinya objek tersebut. Penganut paham rasionalis mampu membedakan antara ”apakah sesuatu itu yang senyatanya” atau ”bagaimanakah tampaknya barang sesuatu itu”. Menurutnya, kebenaran itu diukur dari apakah gagasan itu benar-benar memberikan pengetahuan kepada manusia atau tidak. Tokoh paham rasionalis ini adalah Rene Descartes (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1716).

b. Empirisme
Empirisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa pengetahuan manusia didapatkan lewat pengalaman yang kongkrit, bukan penalaran rasional yang abstrak. Paham ini beranggapan bahwa seluruh ide yang datang dari pengalaman (experience) dan tidak ada proporsi tentang suatu benda dalam kenyataan yang dapat diketahui sebagai kebenaran yang independen dari pengalaman. Gejala alamiah menurut empirisme bersifat kongkrit dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia. Pengetahuan itu merupakan kumpulan fakta-fakta. Paham empirisme ini pada perkembangan selanjutnya melahirkan ideologi baru yang disebut naturalisme yang menganggap bahwa hanya alam otentik yang dapat dipercaya. Tokoh empirisme adalah Jhon Locke (1632-1704), George Barkeley (1685-1753) dan David Hume (1711-1776).

c. Intuisi dan Wahyu
Selain kedua cara di atas, terdapat pula cara lain sebagai sumber pengetahuan yang disebut intuisi dan wahyu. Ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan cara intuisi tidak melalui proses penalaran tertentu. Ia secara tiba-tiba menemukan jawaban dari permasalahan yang dihadapinya. Menurut Maslow intuisi sebagai pengalaman puncak (peak experience), sementara Nietzsche menyebutnya sebagai sumber ilmu yang paling tinggi. Namun, menurut Nietzsche intuisi sifatnya sangat personal dan tidak dapat ditransformasi kepada manusia lain. Dengan demikian lanjutnya, intuisi tidak dapat diandalkan. Ia hanya dapat dijadikan hipotesis yang membutuhkan analisis lanjutan.
Lain halnya dengan wahyu. Ia merupakan pengetahuan yang diperoleh manusia melalui pemberian Tuhan secara langsung kepada hamba pilihan-Nya. Agamalah yang menjadi kata kunci dalam wahyu. Ia memberi tahu tentang kehidupan manusia saat ini dan proses selanjutnya yang akan diarungi manusia setelah kehidupannya di dunia. Dengan demikian, ia merupakan sumber pengetahuan dan sekaligus menjadi sumber keyakinan.
Eksistensi intuisi ini oleh kaum filosof Barat-Moderen sebenarnya baru diakui di akhir abad ke 20, setelah produk rasional dan empiris melahirkan sekularisme yang mekanistik mengenai relitas, dan ketika sama sekali tidak ada tempat bagi ruh atau nilai dalam pengetahuan manusia.

2. Teori Kebenaran Pengetahuan
Dalam menentukan suatu kebenaran, tidak semua manusia memiliki persyaratan yang sama. Paradigma kebenaran akan terasa sangat berbeda antara teori satu dengan teori lainnya karena sangat bergantung terhadap sasaran objek kebenaran itu sendiri. Untuk mencapai kebenaran itu menurut konteks filsafat, paling tidak ada tiga teori yang dapat digunakan untuk mengukur kebenaran itu. Ketiga teori yang dimaksud adalah; koherensi, korespondensi dan pragmatisme. Berikut penjelasan mengenai ketiga teori tersebut.
a. Teori Koherensi
Teori koherensi secara teoritis pertama kali dicetuskan oleh Benediet Spinoza dan George Hegel. Meskipun demikian, menurut Titus, Smith dan Nolan bahwa bibit-bibit teori ini sebenarnya sudah ada sejak zaman pra Socrates. Spinoza kemudian mematangkan teorinya ini dan terus dikembangkan oleh penganut aliran ini seperti Francis Herbert Bradly, Brand Blanshard, Edgar Sheffied Brightman dan Rudolph Carnap. Teori ini dianut oleh kaum rasionalis dan idealis. Teori koherensi ini memandang bahwa kebenaran adalah sebuah sistem dan seperangkat proposisi yang saling berhubungan secara koheren. Sebuah pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu dapat dimasukkan (incorporated) dengan cara yang tertib dan konsisten dengan perangkat proposisi. Sebab, menurutnya, alam ini konsisten dan koheren. Oleh karena itu, suatu pernyataan dianggap benar apabila pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan konsistensi dan pertimbangan-pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Suatu contoh, (1) ”semua manusia yang normal pasti akan menikah”. Pernyataan ini adalah benar. Oleh karena itu, jika pernyataan yang menyebutkan bahwa (2) ”Dessy adalah gadis yang normal, dan pasti ia akan menikah” adalah pernyataan yang benar pula. Karena pernyataan kedua (2) konsisten dengan pernyataan yang pertama (1). Sifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya itulah yang dianggap benar, dan inilah yang menjadi ciri khas dari teori kebenaran ini.

b. Teori Korespondensi
Teori korespondensi ini dianut oleh kaum realis dan mulai berkembang sejak zaman Aristoteles – Yunani Kuno, kenudian dikembangkan oleh Ibnu Sina dan Thomas Aquinas di abad Skolastik. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan terhadap realitas objektif (fidelity to objektive reality), yaitu adanya kesesuaian antara pernyataan tentang fakta, atau pertimbangan (judgement) dengan situasi yang dilukiskan oleh pertimbangan itu. Artinya, suatu pernyataan baru dianggap benar apabila materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu berkoherensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Dengan kata lain, menurut teori ini bahwa suatu pernyataan itu dapat dikatakan benar jika berkorespondensi dengan realitas. Apabila sebuah gagasan selaras dengan pasagannya (counterpart) dalam dunia realitas, maka gagasan itu menjadi benar. Suatu contoh, jika seseorang menyatakan bahwa ”Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia yang kedua, setelah Soekarno, maka pernyataan itu benar sesuai dengan objek yang bersifat faktual. Seandainya ada pernyataan yang menyebutkan bahwa ” ”Soeharto adalah Presiden Republik Indonesia yang pertama, maka pernyataan itu pasti salah, sebab pernyataan itu tidak sesuai dengan realitas fakta, karena Presiden Republik Indonesia yang pertama adalah Soekarno.

c. Teori Pragmatisme
Teori pragmatisme ini termasuk teori kebenaran yang paling baru. Teori ini muncul dengan background telah berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-19, terutama setelah adanya teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin yang menempati posisi signifikan dalam percaturan ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh teori pragmatisme ini adalah Charles Sanders Peirce, William James dan Jhon Dewey. Menurut mereka, suatu pernyataan dianggap benar apabila melalui pengukuran diketahui ada atau tidak adanya fungsi kebenaran itu terhadap kehidupan praktis. Dengan kata lain, suatu pernyataan menjadi benar atau konsekwensi pernyataan itu benar apabila mempunyai manfaat (kegunaan) praktis dalam kehidupan manusia.
Menurut penganut teori pragmatisme ini, gagasan yang benar adalah gagasan yang dapat diasimilasi, dapat diuji validitasnya, berkolaborasi dan mampu dilakukan verifikasi. Kebenaran terjadi pada suatu gagasan, dan gagasan menjadi benar atau dibuat benar oleh suatu peristiwa. Oleh karena itu, kebenaran menurutnya adalah partikular, sebab banyak kebenaran individual.

3. Ilmu Sebagai Sarana Pengembangan Daya Fikir
Secara garis besarnya, ilmu pengetahuan itu dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, ilmu sebagai hasil atau produk berpikir (ilmu sebagai kata benda). Kedua, ilmu sebagai kegiatan dan pengembangan daya pikir (ilmu sebagai kata kerja). Sebagai hasil atau produk berpikir, maka ilmu merupakan sekumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis, bermetode dan kebenaran serta ketepatannya dapat diuji secara empiris, dapat diriset dan dieksperimen. Inilah yang lazim disebut ilmu pengetahuan yang mempunyai objek materi dan objek formal. Dari segi materinya, maka sasaran ilmu pengetahuan adalah alam, manusia dan Agama (Tuhan). Meskipun persoalan agama ini masih terkadang diperselisihkan oleh para cendekiawan sebagai salah satu sasaran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan membahas sasaran-sasarannya itu dengan meninjau dari berbagai aspek atau sudut pandang yang disebut objek formal. Objek formal inilah yang membedakan antara suatu ilmu pengetahuan dengan ilmu pengetahuan lainnya. Dan objek formal ini pulalah yang menjadikan suatu pengetahuan menjadi disiplin ilmu pengetahuan tersendiri.
Selain sebagai hasil produk berpikir, ilmu juga dapat dilihat sebagai alat atau sarana pengembangan daya pikir. Karena ilmu sebagai produk akal manusia yang sifatnya relatif, sehingga tidak ada kata final dalam suatu produk ilmu pengetahuan. Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat absolut, sehingga terbuka peluang bagi setiap orang dan setiap saat untuk memperbaiki dirinya. Di sinilah peranan daya pikir manusia untuk terus menerus mengembangkan dan menghasilkan ilmu pengetahuan baru dalam rangka memenuhi hajat atau keinginannya yang semakin berkembang dan beraneka ragam pula.
Dilihat dari sisi ilmu sebagai sarana pengembangan daya pikir, maka ilmu mencerminkan aktivitas dan kegiatan berpikir yang dinamis dan tidak statis. Oleh karena itu, setiap kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun, selama berdasarkan pada objek empiris dan menggunakan metode keilmuan yang telah dipersyaratkan, maka itu sah dan layak disebut sebagai ilmu pengetahuan. Di sinilah urgensinya ilmu sebagai sarana atau alat pengembangan daya pikir manusia, karena berpikir ilmiah bukanlah berpikir biasa, tetapi berpikir yang teratur, berdisiplin, bermetode, dan bersistem, di mana idea dan konsep yang sedang dipikirkan tidak dibiarkan berkelana tanpa arah dan tujuan. Berpikir ilmiah selalu terarah pada suatu tujuan, yaitu pengetahuan.
4. Metode Berpikir Ilmiah dan Ciri-ciri Kebenarannya
Untuk sampai kepada kebenaran yang dituju diperlukan suatu jalan atau cara. Jalan atau cara inilah yang disebut metode. Dalam Kamus Paedagogik sebagaimana dikutip oleh M. Rasjidi disebutkan bahwa ”metode adalah cara bekerja yang tetap yang dipikirkan dengan seksama guna mencapai tujuan”. Bermacam-macam cara atau metode yang ditempuh dalam proses mencapai kebenaran ilmiah, tergantung kepada objek atau sifat dan jenis ilmu itu sendiri. Tetapi secara garis besarnya, metode ilmiah biasanya terbagi kepada dua macam yaitu :
a. Metode Induktif, yakni suatu cara penganalisaan ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat khusus (individual) menuju kepada hal-hal yang bersifat umum (universal). Metode ini berdasarkan fakta-fakta yang dapat diuji kebenarannya.
b. Metode Deduktif, yakni suatu cara penganalisaan ilmiah yang bergerak dari hal-hal yang bersifat umum (universal) kemudian atas dasar itu ditetapkan hal-hal yang bersifat khusus (individual).
Lain halnya dengan Sri Soeripto, menurutnya seperti yang dikutip Cecep Sumarna bahwa metode berarti langkah-langkah yang diambil, menurut urutan tertentu, untuk mencapai pengetahuan yang benar yaitu suatu tatacara, teknik atau jalan yang ditempuh dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apapun, baik pengetahuan humanistik dan historik maupun pengetahuan filsafat dan ilmiah. Jadi metode ilmiah menurut Sri Soeripto adalah suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pemikiran, pola kerja, cara, teknis dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang sudah ada.
Kaidah keilmuan senantiasa mendasarkan pemikirannya pada penalaran yang rasional dan empiris. Ilmu selalu melakukan observasi dan penjelajahan baru terhadap masalah yang dihadapi dari pra anggapan, hipotesis dan pengujiannya melalui studi dilapangan. Ia selalu mencari arti terhadap hakikat permasalahan sambil terus melakukan antisipasi yang mungkin akan terjadi. Metode ilmiah ini mencoba menggabungkan cara berpikir deduktif dengan cara berpikir induktif dalam membangun sebuah tubuh pengetahuan. Dalam metode ilmiah, diperlukan proses berpikir dengan menggunakan analisa. Dengan kata lain, perlu prosedur berpikir ilmiah yang dimulai dari hipotesis sebagai pemandu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai, sehingga hasil yang hendak dicapai tepat pada sasaran. Setelah hipotesis tersusun, maka langkah selanjutnya adalah menguji hipotesis itu dengan mengkomunikasikan atau mengkonfirmasikannya dengan dunia fisik yang nyata. Proses pengujian ini lazimnya disebut sebagai pengumpulan data atau fakta yang relevan dengan hipotesis yang diajukan.
Menguji kebenaran melalui metode ilmiah harus secara empirik. Sebab seluruh penjelasan rasional yang diajukan, statusnya hanya bersifat hipotesis (sementara). Hipotesis disusun secara deduktif dengan berdasarkan premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang telah diketahui sebelumnya. Adanya penyusunan hipotesis ini, menjadikan metode ilmiah sebagai proses perkawinan yang berkesinambungan antara deduksi dan induksi (proses logico – hypo – tesico – verifikasi).
Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan atau ditentukan sebelumnya. Penjelasan rasional dengan kebenaran koherensi tidak dapat memberikan kesimpulan final karena hanya bersifat pluralistik, sehingga memberi kemungkinan untuk menyusun berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran tertentu. Untuk itu, dalam metode ilmiah diperlukan cara kerja berpikir induktif yang mendasari kriteria kebenarannya pada teori korespondensi. Teori ini menyatakan bahwa suatu pernyataan itu benar apabila materi yang terkandung dalam pernyatanan itu sesuai dengan objek faktual yang dituju oleh pernyataan tersebut. Berikut bagan langkah-langkah dalam melakukan pengujian berdasarkan metode ilmiah.
Langkah-langkah / Prosedur Berpikir Ilmiah












H. Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu philosophia yang terdiri dari kata philos yang berarti cinta, atau philia yang berarti persahabatan, dan sophos yang berarti inteligensi, kebijaksanaan, keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan. Jadi filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan. Berfilsafat berarti berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya sampai ke dasar-dasar persoalan. Objek kajian filsafat adalah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan alam, manusia dan Tuhan. Filsafat merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, filsafat adalah induknya ilmu pengetahuan. Adapun cabang dari filsafat adalah ontologi yang membicarakan tentang wujud hakikat sesuatu objek; epistemologi yang mengkaji tentang metode atau tata cara memperoleh pengetahuan, hakikat pengetahuan dan sumbernya; dan aksiologi yang membahas tentang nilai dan kegunaan suatu pengetahuan, dalam arti kebermanfaatannya terhadap kemaslahatan hidup manusia.
2. Ciri-ciri berpikir filsafat adalah radikal, tersistematis, universal dan menyeluruh serta bersifat spekulatif dan mendasar dalam mengungkap hakikat suatu kebenaran.
3. Ilmu dalam arti science adalah pengetahuan, yakni pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri dan syarat-syarat tertentu; memiliki objek, metode, sistematika dan tujuan serta kebenarannya dapat dibuktikan secara empirik. Sedangkan pengetahuan dalam arti knowledge adalah apa yang kita ketahui melalui penginderaan, pengalaman, intuisi, percobaan, penyuluhan, pelatihan, dan lain-lain. Sumber pengetahuan adalah rasionalisme, empirisme dan intuisis dan wahyu. Sedangkan teori kebenarannya adalah teori koherensi, teori korenpondensi dan teori pragmatis. Adapun metode berpikir ilmiah adalah dengan deduktif dan induktif. Kebenaran ilmu pengetahuan merupakan kebenaran relatif tidak absolut, sehingga memungkinkan manusia mengembangkan daya pikirnya untuk memenuhi hasrat dan naluri keingintahuannya tentang sesuatu yang diketahuinya sebelumnya. Karena itu, ilmu pengetahuan di samping sebagi hasil produk berpikir, juga sebagai sarana kegiatan pengembangan daya pikir manusia.
4. Ilmu pengetahuan dilihat dari cara memperolehnya dapat dibedakan menjadi ilmu ladunni dan ilmu kisbi. Dilihat berdasarkan fungsinya, ilmu-ilmu itu dapat diklasifikasikan menjadi ilmu untuk ibadah dalam arti khusus atau ritual; ilmu untuk mengembangkan pribadi manusia mencapai ahsani taqwim; ilmu untuk hidup berbudaya dengan sesama manusia; dan ilmu untuk memelihara, mengembangkan dan menciptakan lingkungan hidup yang lebih baik. Ditinjau dari segi essensialnya, ilmu dibedakan menjadi teoritical science dan applied science / practical science. Ditinjau dari segi objeknya ilmu dibagi menjadi Natural Science dan Social Science. Ditinjau dari segi prosesnya ilmu dibedakan menjadi Historical Science dan Experimental Science. Kalau ditinjau dari segi pengalaman ilmu dibagi menjadi Empirical Science dan Pure Science. Sedangkan apabila ditinjau dari segi agama ilmu dapat dibedakan menjadi ilmu duniawi dan ilmu ukhrawi.
5. Filsafat dan ilmu sama-sama mencari kebenaran. Ilmu bertugas melukiskan, sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan ’bagaimana menjawab pelukisan’, sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan ’bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan ke mana akhirnya’. Hal ini dapat dipahami bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan, tetapi pada sisi yang lain ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan dapat menjadi pembuka dan sekaligus pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu. Filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai cabang ilmu. Dengan demikian terlihat bahwa antara filsafat dengan ilmu terdapat pola relasi (hubungan), baik dalam bentuk persamaan dan ataupun perbedaan.

Referensi
 Ahmadi, H. Abu dan Nur Uhbiyati. Ilmu Pendidikan. Cet. II; Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2001.
v
v Daradjat, Zakiah, dkk. Materi Pokok Dasar-dasar Agama Islam. Jakarta: Univ. Terbuka, 1999.Departemen Agama RI. Islam untuk Disiplin Ilmu Pendidikan: Buku Daras Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum Fakultas /Jurusan / Program Studi Pendidikan. Jakarta: tp., 2000.
 Gie, The Liang. Sejarah Ilmu-ilmu dari Masa Kuno samapi Zaman Modern. Yogyakarta: Sabda Persada, 2003.
v
 Hanafi, A. Ihktisar Sejarah Filsafat Barat, Jakarta: Pustaka alhusna, 1981.
v
 Nasution, Harun. Falsafat Agama. Cet. VIII; Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
v
 Rasjidi, M. dan Harifuddin Cawidu.
v Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat. Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
 Suriasumantri, Jujun S.
v Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Popular. Cet. XVIII; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005.
 Semarna, Cecep.
v Filsafat Ilmu dari Hakekat Menuju Nilai. Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
 Semiawan, Conny dkk.
v Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Jakarta: Teraju, 2005.
 Shihab, M. Quraish. Membumikan al-Quran: Fungís dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Cet. XVIII; Bandung: Mizan, 1998.
v
 ----------------- Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Amat. Cet. III; Bandung: Mizan, 1996.
v
 Undang-undang No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 1 ayat 1 tahun 2003.
v
1. Pendahuluan
Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Filsafat telah muncul dari abad-abad yang lalu, telah banyak filsuf yang menghasilkan pemikirsn-pemikiran jernih mereka tentang kebenaran. Dimulai dari zaman Yunani, pertengahan, zaman klasik, hingga zaman sekarang. Para filsuf tentang menghasilkan pemikir mengenai kebenaran asal mula kehidupan dan tentang baik dan buruk sesuatu.
Abidin (http://meetabied.wordpress.com/2009/12/23/pengertian-filsafat-cabang-cabang-filsafat-filsafat-dan-agama/) mengemukakan bahwa luasnya lapangan ilmu filsafat mengakibatkan menjadi sukar pula orang mempelajarinya, dari mana hendak dimulai dan bagaimana cara membahasnya agar orang yang mempelajarinya segera dapat mengetahuinya.
Pada zaman modern ini pada umunya orang telah sepakat untuk mempelajari ilmu filsafat itu dengan dua cara, yaitu dengan mempelajari sejarah perkembangan sejak dahulu kala hingga sekarang (metode historis), dan dengan cara mempelajari isi atau lapangan pembahasannya yang diatur dalam bidang-bidang tertentu (metode sistematis).
Dalam metode historis orang mempelajari perkembangan aliran-aliran filsafat sejak dahulu kala sehingga sekarang. Di sini dikemukakan riwayat hidup tokoh-tokoh filsafat di segala masa, bagaimana timbulnya aliran filsafatnya tentang logika, tentang metafisika, tentang etika, dan tentang keagamaan. Seperti juga pembicaraan tentang zaman purba dilakukan secara berurutan (kronologis) menurut waktu masing masing.
Dalam metode sistematis orang membahas langsung isi persoalan ilmu filsafat itu dengan tidak mementingkan urutan zaman perjuangannya masing-masing. Orang membagi persoalan ilmu filsafat itu dalam bidang-bidang yang tertentu. Misalnya, dalam bidang logika dipersoalkan mana yang benar dan mana yang salah menurut pertimbangan akal, bagaimana cara berpikir yang benar dan mana yang salah.
Kemudian dalam bidang etika dipersoalkan tentang manakah yang baik dan manakah yang baik dan manakah yang buruk dalam pembuatan manusia. Di sini tidak dibicarakan persoalan-persoalan logika atau metafisika. Dalam metode sistematis ini para filsuf kita konfrontasikan satu sama lain dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya dalam soal etika kita konfrontasikan saja pendapat pendapat filsuf zaman klasik (Plato dan Aristoteles) dengan pendapat filsuf zaman pertengahan (Al-Farabi atau Thimas Aquinas) dengan pendapat-pendapat filsuf dewasa ini (Jaspers dan Marcel) dengan tidak usah mempersoalkan tertib periodasi masing-masing. Begitu juga dalam soal-soal logika, metafisika, dan lain-lain. Makalah ini akan membahas cabang dan aliran filsafat berdasarkan pendapat para ahli yang disusun melalui metode sistematis.

  1. 2. Cabang dan Aliran Filsafat
Filsafat adalah sebagai induk yang mencakup semua ilmu khusus. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat. Namun, dengan begitu muncullah filsafat baru yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus.
Menurut Suriasumantri (2000:32), pokok permasalahan yang dikaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang disebut benar dan apa yang disebut salah (logika), mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk (etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika). Ketiga cabang utama filsafat ini bertambah lagi yakni, tentang teori ada, tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat keberadaan zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika dan cabang-cabang tersebut terus berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut, Suriasumantri (2001:35) terdapat tiga landasan filsafat. Ketiga landasan itu yaitu ontologis,  epistemologi, dan aksiologis. Apa yang dikaji oleh pengetahuan (ontology)? Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu (epistemology) serta untuk apa pengetahuan dipergunakan (aksiologi)?
2.1 Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.
Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
1. Objek Formal
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental.

2. Metode dalam Ontologi
Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek; sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi cirri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori.
Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan.
Contoh :            Sesuatu yang bersifat lahirah itu fana           (Tt-P)
Badan itu sesuatu yang lahiri                 (S-Tt)
Jadi, badan itu fana’                              (S-P)
Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik sebagai berikut:
Contoh :          Gigi geligi itu gigi geligi rahang dinasaurus                 (Tt-S)
Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan              (Tt-P)
Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan                     (S-P)
Bandingkan tata silogistik pembuktian a priori dengan a posteriori. Yang apriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan (http://kecoaxus.tripod.com/filsafat/pengfil.htm).
Sudarsono (1993:118) mengemukakan bahwa tokoh yang membuat istilah ontologi popular adalah Christian Wolf (1697-1714). Istilah ontology berasal dari bahasa Yunani yaitu ta onta berarti “yang berada” dan logi berarti “ilmu pengetahuan”. Dengan demikian ontologi merupakan ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada.
Di dalam ontology terdapat beberapa aliran yang penting yaitu meliputi monoisme, dualisme, idealisme, dan agousticisme. Monoisme  memandang bahwa sumber yang asal itu hanya tunggal. Menurut Thales: air,  menurut Anaximandros: to apeiron yang berarti “tak terbatas”, dan  menurut Anaximenes: udara. Dualisme memandang alam menjadi dua macam hakikat sebagai sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani. Idealisme dinamakan juga spiritualisme, memandang segala sesuatu serba-cita atau serba roh. Agousticisme merupakan aliran yang mengikari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika.
a. Metafisika
Metafisika adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Ajaran Aristoteleslah yang mengajarkan metafisika. Metafisika membicarakan sesuatu di sebalik yang tampak. Dengan belajar metafisika orang justru akan mengenal akan Tuhannya, dan mengetahui berbagai macam aliran yang ada dalam metafisika.
b. Teologi
Thomas Aquinas (185-254) mengajarkan theologi naturalis. Bakry yang dikutip Surajiyo (2005:125-126), berpendapat bahwa golongan yang kedua dari metafisika adalah teologi. Yang dimaksud ajaran teologi dalam ajaran filsafat metafisika ialah teori naturalis. Yakni filsafat ketuhanan yang berpangkal semata-mata pada kejadian alam.
Teologi naturalis dibagi menjadi dua aliran besar, yaitu Theisme dan Pantheisme. Theisme ialah aliran yang berpendapat bahwa ada sesuatu kekuatan yang berdiri di luar alam dan menggerakkan alam ini.  Kekuatan itu adalah Tuhan. Tuhan itu yang menggerakkan dan memelihara jalannya aturan-aturan dunia sehingga dunia ini teratur dengan baik. Jadi, Tuhan berada di luar alam. Tuhan adalah sebab bagi apa yang ada di sunia ini. Alam ini tidak beredar menurut hukum dan peraturan-peraturan yang tidak berubah, tetapi beredar  menurut kehendak mutlak Tuhan. Sedangkan Pantheisme mengandung arti seluruhnya Tuhan. Pantheisme berpendapat bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya ialah Tuhan, dan tuhan ialah semua yang ada dalam keseluruhannya.
2.2 Epistemologi
Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia tidaklah memiliki pengetahuan yang sejati, maka dari itu kita dapat mengajukan pertanyaan “bagaimanakah caranya kita memperoleh pengetahuan”?Istilah Epistemologi dipakai pertama kali oleh J.F. Feriere.  adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat, metode, dan kesahihan pengetahuan. Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku. Pada garis besarnya ada beberapa paham pengetahuan, antara lain: emperisme, idealisme, kritisisme, dan rasionalisme (Sudarsono, 1993:157).
a. Empirisme
Praja (2003:105—112) mengemukakan bahwa Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu emperia yang berarti pengalaman inderawi. Oleh karena itu, empirisme dinisbatkan kepada paham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme.
Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari rasio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. Sebaliknya empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Tokoh-tokoh aliran empirisme, antara lain: Francis Bacon (1210 -1292), Thomas Hobbes ( 1588 -1679), John Locke ( 1632 -1704), George Berkeley ( 1665 -1753), David Hume ( 1711 -1776), dan Roger Bacon ( 1214 -1294).
b. Idealisme
Idealisme adalah aliran filsafat yang menganggap bahwa realitas ini terdiri dari ide-ide, pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda material dan kekuatan. Istilah idealisme yang menunjukkan suatu pandangan dalam filsafat belum lama dipergunakan orang (Praja, 2003:126).
Namun demikian, pemikiran tentang ide telah dikemukakan oleh Plato sekitar 2.400 tahun yang lalu. Menurut Plato, realitas yang fundamental adalah ide, sedangkan realitas yang tampak oleh indera manusia adalah bayangan dari ide tersebut. Bagi kelompok idealis alam ini ada tujuannya yang bersifat spiritual. Hukum-hukum alam dianggap sesuai dengan kebutuhan watak intelektual dan moral manusia. Mereka juga berpendapat bahwa terdapat suatu harmoni yang mendasar antara manusia dengan alam. Manusia memang bagian dari proses alam, tetapi ia juga bersifat spiritual, karena manusia memiliki akal, jiwa, budi, dan nurani (http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/).
Tokoh-tokoh aliran idealisme, antara lain: Plato (477 -347 Sb.M), B. Spinoza (1632 -1677), Liebniz (1685 -1753), Berkeley (1685 -1753), J. Fichte (1762 -1814), F. Schelling (1755 -1854) dan G. Hegel (1770 -1831).
c. Kritisisme
Kritisisme merupakan aliran filsafat yang menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Oleh karena itu, kritisisme sangat berbeda corak dengan rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.
Kritisisme menjebatani pandangan rasionalisme dan empirisme, yang intinya ilmu pengetahuannya berasal dari rasio dan pengalaman manusia. Tokoh aliran kritisisme, yaitu Immanuel Kant (1724-1804) (http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/).
d. Rasionalisme
Para penganut rasionalisme berpandangan bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal) seseorang. Perkembangan pengetahuan mulai pesat pada abad ke-18. Orang yang dianggap sebagai bapak rasionalisme adalah Rene Descartez (1596-1650) yang juga dinyatakan sebagai bapak filsafat modern. Semboyannya yang terkenal adalah cogito ergo sum (saya berpikir, jadi saya ada).
Tokoh-tokoh lainnya adalah John Locke (1632-1704), J.J. Rousseau (1712-1778) dan Basedow (1723-1790). John Locke terkenal sebagai tokoh filsafat dan pendidik dengan pandangannya tentang tabula rasa dalam arti bahwa setiap insan diciptakan sama, sebagai kertas kosong. Dengan demikian melatih atau memberikan pendidikan atau pandai menalar merupakan tugas utama pendidikan formal (http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/).
e. Logika
Logika adalah cabang filsafat yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita. Menurut Sudarsono (1993:162), logika berasal dari bahasa Yunani, dari kata logike yang berhubungan dengan kata logos yang berarti perkataan atau kata sebagai manifestasi dari pikiran manusia. Dengan demikian terdapatlah suatu jalinan yang kuat antara pikiran dan kata yang dimanifestasikan dalam bahasa. Secara etimologis dapatlah diartikan bahwa logika itu adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa.
Nama logika pertama kali muncul pada filsuf Cicero (abad ke-1 SM) tetapi dalam arti ‘‘seni berdebat’’. Alexander Aphordisias (sekitar permulaan abad ke-3) adalah orang pertama yang mempergunakan kata logika dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita.
Di samping itu, Aristoteles pun telah berjasa besar dalam menemukan logika. Namun, ia belum menggunakan nama logika. Ia menggunakan istilah analitika dan dialektika. Analitika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar sedangkan dialektika untuk penyelidikan mengenai argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis atau putusan yang tidak pasti kebenarannya (Bertens dikutip Surajiyo, 2003:23).

2.3 Aksiologi
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhi reproduksi dan penciptaan manusia itu sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kamanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya, namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. “bukan lagi Goethe yang menciptakan Faust.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung,” melainkan faust yang menciptakan Goethe.”
Menghadapi kenyataan seperti ini, ilmu yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: untuk apa sebenarnya ilmu itu harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaa semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuan seperti Copernicus, Galileo dan ilmuwan seangkatannya; namun bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan kekhawatiran perang dunia ketiga, pertanyaan-pertanyaan ini tak dapat di elakkan. Dan untuk menjawan pertanyaan ini maka ilmuan berpaling kepada hakikat moral.
Sebenarnya sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moral namun dalam perspektif yang berbeda. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti apa yang dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain, terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran diluar bidang keilmuan di antaranya agama. Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Galileo (1564-1642), oleh pengadilan agama tersebut, dipaksa untuk mencabut pernyataanya bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.
Sejarah kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang rela mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi untuk menemukan kebenaran. Tanpa landasan moral maka ilmuwan mudah sekali tergelincir dapat melakukan prostitusi intelektual. Penalaran secara rasional yang telah membawa manusia mencapai harkatnya seperti sekarang ini berganti dengan proses rasionalisasi yang bersifat mendustakan kebenaran. “segalanya punya moral,” kata Alice dalam petualangannya di negeri ajaib, “asalkan kau mampu menemukannya.” (adakah yang lebih kemerlap dalam gelap; keberanian yang esensial dalam avontur intelektual?).
Jadi pada dasarnya apa yang menjadi kajian dalam bidang ontologi ini adalah  berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan; untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/professional? (http://kecoaxus.tripod.com/filsafat/pengfil.htm)
Aksiologi  adalah cabang filsafat yang membicarakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam hubungannya dengan baik-buruk (moral dan etika). Objek material aksiologi adalah perbuatan atau tingkah laku manusia secara sadar dan bebas. Pada hakikatnya aksiologi erat kaitannya dengan perbuatan manusia. Apabila dikaji secara mendalam tujuan perbuatan manusia adalah kebahagiaan. Karena kekomplekan kajian tentang etika, maka muncullah beberapa paham yang kajiannya menitik beratkan kepada perbuatan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Paham-paham tersebut antara lain : naturalisme, hedonisme, idealisme, perfectionism, theologies, dll (Sudarsono, 1993:197—206).

  1. a. naturalisme,
Aliran yang beranggapan bahwa     kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural   (fitrah) kejadian manusia sekali.  Perbuatan yang baik menurut aliran ini ialah perbuatan yang sesuai dengan fitrah manusia.
Paham ini menilai baik dan tidaknya perbuatan seseorang ditilik dari adanya kesesuaian dengan naluri manusia, baik naluri lahir maupun naluri batin sebagai titik tolak kebahagiaan. Paham ini didukung oleh Prodicus, Galileo, Grotius, Voltaire, dll.

  1. b. hedonisme,
Aliran yang berpendapat bahwa perbuatan susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan ‘hedone’ (kenikmatan dan    kelezatan). Kebaikan yang paling utama dan kewajiban seseorang ialah mencari kesenangan sebagai tujuan hidupnya. Aliran hedonisme dibagi menjadi dua cabang yaitu hedonism egostik dan hedonism universalistic. Aliran hedonism didukung oleh Demokritos, Aristeppos, dan Epikuros.
c. utilitarianisme
Aliran yang menilai baik dan   buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi    manusia (utility = manfaat). Paham utility didukung oleh JS. Mill, Bentham, dll.
d. idealisme
Aliran yang menilai baik buruknya    perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi    haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.
e. vitalisme
Aliran yang menilai baik-buruknya    perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
f. theologies
Aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran    baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak    sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).
2.4 Aliran-Aliran Lainnya dalam Filsafat
Menurut Praja (2003:91—189) aliran-aliran lainnya dalam filsafat, yaitu
a. Positivisme
Positivisme berasal dari kata “positif”, yang artinya dengan factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan tidak boleh melebihi fakta. Positivisme hanya menyelidiki fakta-fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta-fakta.
Positivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita-citakan oleh empirisme. Hanya saja, positivisme mengandalkan fakta-fakta belaka bukan berdasarkan pengalaman, seperti empirisme. Tokoh aliran positivisme, antara lain: Auguste Comte (1798-1857).
b. Intusionalisme
Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan. Tokoh aliran intusionalisme, antara lain: Plotinos (205 -270) dan Henri Bergson (1859 -1994).
c. Fenomenalisme
Secara harfiah, fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi.
Serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung.
Tokoh-tokoh aliran fenomenalisme, antara lain: Edmund Husserl (1859 -1938), Max Scheler (1874 -1928), Hartman (1882 -1950), Martin Heidegger (1889 -1976), Maurice Merleau-Ponty (1908 -1961), Jean Paul Sartre (1905 -1980),  dan Soren Kierkegaard (1813 -1855).
d. Sekularisme
Sekularisme merupakan suatu proses pembebasan manusia dalam berpikirnya dan dalam berbagai aspek kebudayaan dari segala yang bersifat keagamaan dan metafisika, sehingga bersifat duniawi belaka. Sekularisme bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, kitab suci dan hari kemudian. Tokoh aliran sekularisme adalah George Jacob Holyoake (1817-1906).
3. Penutup
Ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangkap manusia (sepert berpikir, merasa dan mengindera) yang membuakan pengetahuan?.
Epistemologi berusaha menjawab bagaimna proses yang memungkinkan di timbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriterianya? Cara/tehnik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu?
Aksiologi menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral?

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Muhammad Zainal. 2009. Pengertian Filsafat, Cabang-Cabang Filsafat, Filsafat dan Agama. http://meetabied.wordpress.com/2009/12/23/pengertian-filsafat-cabang-cabang-filsafat-filsafat-dan-agama/. Diakses 12 September 2010.

­­­­­Ismalianibaru. 2008. Aliran-Aliran dalam Filsafat. http://ismalianibaru.wordpress.com/2008/04/24/aliran-aliran-dalam-filsafat/. Diakses 12 September 2010.
Praja, Juhaya S. 2003. Aliran-Aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media
Sudarsono. 1993. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta
Surajiyo. 2005. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Suriasumantri, Jujun S. 2001. Filsafah Ilmu: Sebuah Pengantar Populer.  Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
 http://diahutamidotcom.wordpress.com/2011/03/02/cabang-dan-aliran-filsafat/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 komentar:

GRAWITA NUGRAHA CIPTA MANGGALA EKA PUTRA mengatakan...

terima kasih gan.. ijin sedot..

Poskan Komentar